Beberapa Metode Membangun Karakter di Sekolah dan Bagi Siswa

Pengantar

Merujuk pada beberapa study dan penelitian, saat ini boleh dikatakan era generasi X, dimana mereka masih mendominasi berbagai posisi baik di pemerintahan maupun swasta dan sektor lainnya  dalam sebuah institusi atau organisasi. Mereka ini dikelompokan lahir antara tahun 1965-1980. Sementara itu generasi Y yang dikelompokan lahir antara tahun 1981-1994, masih menggeliat, menggali terus jati diri mereka, mencari kemapanan dalam bidang pekerjaan dan ekonomi. Beberapa diantaranya ada yang sudah menjadi pimpinan sebuah perusahaan sejak usia muda.

Sedangkan Generasi Z, dikelompokan lahir antara tahzun 1995-2010 yang merupakan keturunan dari generasi X dan Baby Boomer, sekarang ini didominasi generasi muda yang rata-rata masih terus mencari jati diri dan berbagai pengalaman. Beberapa di antara mereka, dimudahkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bahkan sudah berhasil memperoleh penghasilan sendiri.

Dari sumber Wikipedia berbahasa Inggirs yang merangkum refrensi yang membahas Generasi Z ini, menyebutkan bahwa di seluruh dunia, generasi ini lebih banyak menghabiskan waktu di perangkat elektronik dan lebih sedikit waktu membaca buku daripada generasi sebelumnya, memproduksi kosakata baru mereka  dan dengan demikian juga mengejar nilai sekolah mereka, serta lebih dini berinisiatif berlomba-lomba terlibat dalam ekonomi modern.

Pada saat yang sama, membaca dan menulis fiksi menjadi kegemaran tersendiri di seluruh dunia, terutama di kalangan gadis remaja dan wanita muda. Di Asia, para pendidik pada tahun 2000-an dan 2010-an biasanya mencari dan mengumpulkan siswa berprestasi, sedangkan di Eropa Barat dan Amerika Serikat, penekanannya adalah pada siswa yang berprestasi rendah. Selain itu, siswa di Asia Timur secara tetap meraih posisi teratas dalam berbagai tes standar internasional selama tahun 2010-an.

Beberapa pengelompokan generasi di atas, secara mayoritas ditempa melalui bangku pendidikan. Dimana hasil yang mereka peroleh setelah menyelesaikan study mungkin dapat terukur secara ekonomi dalam pencapaian kedudukan dan prestasi yang menurut pandangan umum  cukup memuaskan. Namun pertanyaan besarnya, sejauh mana Karakter mereka ditengah masyarakat? Banyak penelitian untuk mengukur takaran Karakter tersebut itu adalah baik, normal atau bahkan jauh lebih baik dari generasi-generasi jauh sebelum mereka.  

Diantara mereka mungkin masih ada yang masih terus menempa dirinya seiring waktu berjalan, bertambahnya usia dan pengalaman yang mereka peroleh. Namun ada juga yang tetap terperangkap dalam karakter pribadi,  yang justeru berpotensi merugikan baik bagi diri sendiri bahkan orang lain secara langsung maupun tidak. Sekalipun ada yang terukur sukses namun jika ditakar belum mampu memiliki Karakter yang diidam-idamkan oleh lingkungan keluarga, masyarak, bahkan untuk terlibat dalam pembangunan bangsa dan Negara seutuhnya, dalam mempertahankan nilai-nilai luhur yang dipertahankan dan dipelihara sebagai bangsa Indonesia.

Ya! Selain ditempa di keluarga dan  masyarakat. Dunia pendidikanlah yang mengambil porsi terbanyak dalam membangun karakter generasi muda saat ini dan dikemudian hari.

Melalui pendidikan sekolah yang sudah super sibuk dan menyita waktu, tenaga dan pikiran pelajar, sekalipun di dalam kurikulum telah memuat aspek pembentukan karakter, namun terkadang menjadi hal yang kesekian dibandingkan prestasi dalam “angka” yang mereka raih. Pembangunan karakter tidak dapat diukur dari nilai raport dan prestasi belajar namun perlu dievaluasi sejauh mana sekolah mampu menyelenggarakan pendidikan  yang berorientasi pada pembangunan karakter siswa, yang mungkin tidak terlihat saat ini, namun kelak ketika mereka beranjak dewasa dan bergelut dalam dunia kerja dan kehidupannya ditengah-tengah masyarakat, semuanya terlihat dengan jelas dan dapat dinilai orang lain. Atau, bahkan adapula yang sangat mahir dalam menyembunyikan karakter aslinya di depan orang lain, sehingga terlihat baik dan terhormat. Inilah tantangan!

Sekolah bukan hanya memperkenalkannya melalui penjabaran kurikulum dan  metode, tentang konsep belajar saja. Seolah-olah sekolah merupakan tempat di mana fondasi dapat dibangun untuk menjadi orang dewasa yang terhormat. Setiap sekolah seharusnya menerapkan sikap dan tindak tanduk rasa hormat, kejujuran dan kebaikan yang tulus untuk semua siswa. Suka atau tidak suka, guru adalah panutan bagi siswa dan dapat memberikan contoh karakter yang baik setiap hari di kelas. Siswa memperhatikan apa yang guru, lakukan, katakan, toleransi, dan bagaimana mereka menangani sebuah tantangan sebagai seorang guru.

Namun, pembentukan karakter juga dapat dilakukan secara proaktif melalui tindakan dan kegiatan yang direncanakan di dalam kelas. Kegiatan kelas ini akan mendorong siswa untuk mengembangkan dan mengadopsi prinsip dan perilaku etika berkualitas yang dapat bertahan jauh di luar kelas. Berikut ini terdapat beberapa cara untuk membantu membangun karakter di dalam kelas dan sekolah

Pilar karakter

Dikatakan bahwa karakter dapat diukur dengan apa yang akan dilakukan seseorang jika tidak ada yang melihat. Karakter sejati ditanamkan pada level yang dalam sehingga perilaku positif menjadi otomatis harus diwujudkan. The Josephson Institute of Ethics mendefinisikan pilar utama karakter yaitu mencakup: kepercayaan, tanggung jawab, rasa hormat, kepedulian, keadilan dan kewarganegaraan. Keberanian, ketekunan, dan integritas terkadang juga disertakan.

Salah satu cara untuk memulai pilar-pilar di atas adalah dengan memilih waktu satu kali per bulan dan menemukan cara agar siswa terdorong untuk mengikutinya. Membuat kolase (komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan, seperti kertas, kain, kaca, logam, kayu, dan lainnya yang ditempelkan pada permukaan gambar) yang secara interaktif disajikan di papan buletin kelas. Tetapkan suatu proyek penulisan kreatif tentang topik tersebut, doronglah siswa untuk mengeksplorasinya. Bagaimana mereka mendefinisikan kepercayaan, rasa hormat, atau integritas? Berfokus pada satu pilar per bulan saja merupakan cara yang sudah cukup bagus untuk meningkatkan kesadaran akan sifat-sifat karakter yang dapat mereka upayakan untuk dikembangkan dalam diri mereka sendiri. Siswa juga dapat membaca buku yang menurut guru dapat mewujudkan sifat-sifat tersebut, atau membuat slogan pribadi tentangnya .

Menetapkan Aturan

Adalah tanggung jawab sebagai guru untuk menetapkan aturan yang sesuai untuk perilaku siswa di kelas. Perjelas tentang aturan dasarnya. Tentukan apa yang diharapkan dari siswa, dan apa yang tidak dapat diterima. Diskusikan aturan dengan siswa, serta sifat-sifat karakter yang diwujudkan dan dibangun melalui setiap aturan. Pastikan Guru juga menjadi contoh yang baik. Mengajar dengan metode yang terbaik dan diselesaikan tepat pada waktunya, berpenampilan rapih dan selalu tepat waktu, dan jangan sunkan untuk menunjukan rasa hormat kepada orang lain bahkan kepada siswa sekalipun dalam sikap dan tutur.

Guru bahkan dapat mengizinkan siswa untuk menyarankan aturan lain yang bermanfaat dan tentu saja dapat bermanfaat bagi kelas. Guru harus terbuka dan tetap positif; memuji siswa yang menunjukkan perilaku dan karakter yang baik pada tempatnya. Jadikan mereka panutan yang positif bagi kelas. Guru dapat menggunakan sistem penghargaan untuk perilaku yang baik seperti penghargaan khusus, tidak perlu bernilai mahal, mungkin saja berupa pin kecil yang bias disematkan di seragam atau penghargaan yang dapat dibawa pulang ke rumah untuk dipajang dan akan dikenang sebagai suatu pencapaian yang dihargai dan harus dapat dipertahankan hingga masa depan mereka.

Mendorong Model Peran yang Baik

Siswa akan memilih model atau contoh peran entah dari guru atau orang dewasa, keluarga mungkin, yang dapat membantu mereka dalam pembentukan karakter atau tidak. Oleh karena itu, sebagai pendidik, haruslah berusaha menunjukkan teladan sebagai karakter positif dalam sejarah, sastra, sains, dan seni. Ajarkan dengan sengaja tentang orang-orang yang dapat ditiru oleh siswa. Mintalah siswa untuk mendeskripsikan, menilai, dan mencocokkan sifat dan perilaku orang-orang ini atau karakter terpuji dalam sebuah cerita fiksi. Mereka bahkan dapat mendramatisasi beberapa elemen cerita atau mengubahnya yang memungkinkan karakter tersebut menjadi pilihan yang lebih baik. Bicara tentang perilaku para pemimpin dunia saat ini, tokoh olahraga dan selebriti juga. Guru dapat menanyakan kepada siswa apakah kata-kata seseorang cocok dengan tindakan mereka atau tidak. Diskusikan bagaimana kehidupan ditingkatkan dengan sifat-sifat karakter yang baik.

Memegang Teguh Prisip Untuk Menghormati

Suatu kelas harus didirikan dengan kokoh di atas dasar rasa hormat. Menghargai diri sendiri dan menghormati orang lain adalah dasar dari semua sifat karakter positif lainnya. Sifat, pemikiran dan tindakan yang negative serta penyalahgunaan dalam bentuk apa pun tidak boleh ditoleransi, dan untuk itu perlu dirumuskan metode yang tepat didalam memberikan sanksi sebagai konsekuensi apabila dilanggar. Membuat kampanye anti-intimidasi dan pujilah kebaikan yang memperlakukan sesame teman sekelas dengan hormat dan bermartabat.

Membangun Komunitas yang Peduli

Sikap peduli dapat didorong dengan memiliki kebijakan toleransi yang  kokoh, misalnya pada pemanggilan nama dan penyerangan karakter atau intimidasi apalagi berdasarkan SARA. Pastikan semua siswa dilibatkan ikut dalam setiap kegiatan. Jelaskan konsep “apa itu tindakan kebaikan” dan berikan penghargaan kepada siswa ketika mereka mendemonstrasikannya.

Kesukarelawanan atau Kesetiakawanan

Sebagai pendidik, luangkan waktu Anda di kelas untuk menyoroti masalah kebajikan dan pentingnya kesukarelaan atau kesetiakawanan. Mulailah merumuskan metode program tersebut mulai dari kelas hingga lingkup sekolah. Izinkan siswa untuk membaca atau mengajar anak-anak yang lebih kecil, membantu di lab komputer, membantu mereka belajar, atau dengan memberikan dukungan bagi siswa yang baru pulih dari penyakit atau cedera yang mereka derita.

Sebagai guru anda dapat mengumpulkan sumbangan untuk tujuan yang berharga, bahkan mungkin untuk melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus atau ketinggalan dalam mengikuti pelajaran. Contohnya seperti adalah The Smile Train, yang menawarkan operasi gratis untuk anak-anak miskin yang memiliki bibir sumbing. Siswa dapat mengatur dan melakukan proyek daur ulang, melakukan pekerjaan untuk sumbangan, atau melakukan kegiatan bersepeda, berjalan, menari bersama dalam satu kerukunan dan kesetiakawanan, dan lain sebagainya.

Karakter Dalam Aksi

Sepanjang tahun ajaran, sekolah atau pendidik ataupun mungkin tim guru yang dibentuk sekolah dapat menyelenggarakan dan mendorong siswa untuk membuat proyek kelas ataupun lingkup sekolah yang dapat bermanfaat bagi sekolah atau masyarakat. Brainstorm ide-ide yang memupuk Pilar Karakter yang disebutkan di atas dan berjuang dan semangat mempertahankan komunitas yang telah terbentuk dengan karakter-karakter tersebut, dan ciptakan lagi komunitas-komunitas baru dengan nafas yang sama lewat kerjasama guru antar kelas dibawah pengawasan sekolah. Mintalah siswa atau kelas yang senior untuk mengelola proyek tersebut. Bekerja dengan siswa untuk merencanakan langkah-langkah yang diperlukan. Mintalah dukungan orang tua dan masyarakat; meminta sponsor atau donasi sesuai kebutuhan bila diperlukan.

 Ini hanya beberapa saran untuk membangun karakter di sekolah dan siswa. Namun, sebenarnya ada kesempatan tanpa akhir untuk melakukannya sepanjang hari di sekolah. Gunakan imajinasi anda sebagi pendidik — langit adalah batasnya.

 Semoga berguna bagi para pendidik, siswa, sekolah, pemerhati pendidikan dan karakter anak bangsa, dan tentu saja Pemerintah serta masyarakat luas

.Sumber Gambar : https://resilienteducator.com

Baja Juga :  FGD: Kekerasan Online Pada Anak dan “Sex Tourism”
Choose your Reaction!