Katanya Ngapain Repot Ngurusin Anak Orang Menggunakan Internet?

talk_too_much

Agak miris memang dengernya, tapi rasanya wajar saja jika terdapat sebagian orang tua atau masyarakat menganggap bahwa urusan perlindungan anak dalam pemanfaatan teknologi informasi, khususnya internet sudah menjadi tanggung jawab dan resiko orang tua, jadi.. menurut mereka, tidak perlu diurusin. “Toh.. semua orang tua sudah tau cara ngawasin anak-anak mereka sendiri”, katanya melanjutkan pertanyaan atau pernyataan dari judul tulisan ini.

Tentu saja, pendapat di atas tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, kemudian beradu argumentasi tentang segala macam fakta dan data tentang berbagai kasus yang terjadi apalagi harus menunjukan berlembar-lembar halaman hasil penilitian tentang ancaman penyalahgunaan internet, khususnya di Indonesia yang seolah-olah terkesan merupakan “peringatan keras” dan “menakut-nakuti” orang tua atau masyarakat umum.

Pendapat mereka yang menolak untuk diberi edukasi pemanfaatan TIK, adalah merupakan hak mereka sepenuhnya, dan patut dihargai, walau memang tidak mewakili orang tua yang lainnya tentu saja. Karena dalam kenyataannya masih ada  orang tua yang selalu mencari sumber referensi dari internet mengenai “parenting control” atau bertanya dan berkonsultasi langsung dengan pakar, professional atau para relawan TIK dari berbagai komunitas di Indonesia.

Ketika kasus pedofilia marak diberitakan oleh media di sela-sela pemberitaan tentang pemilu yang lebih seksi beberapa waktu lalu,  paling tidak membuat banyak orang tua menjadi lebih waspada untuk mengawasi dan memberikan perhatian lebih kepada anak-anak mereka.  Mungkin karena pemberitaan itu pula, para orang tua telah memiliki metode tersendiri untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap anak mereka dari ancaman pedofil dari jagat maya.

Pada saat pertanyaan atau pernyataan seperti yang dijelaskan di awal dikomunikasikan kepada kami sebagai relawan, saya cukup paham, karena beda orang tua beda pula pemahamannya, terlebih lagi ketika saya bertanya dalam situasi apa pernyataan sikap tersebut terlontar begitu tegas, ternyata bukan pada moment sosialisasi dalam acara resmi. Pernyataan itu muncul ketika kawan kami melakukan diskusi bersama beberapa orang tua dalam suasana yang tidak resmi (kongkow-kongkow begitu kira-kira). Bahkan kalaupun dalam situasi resmipun, seharusnya kawan saya itu dapat menerimanya sebagai masukan penting. Apalagi pasti yang menyampaikan adalah orang sudah dikenal.

Baja Juga :  Penelitian : Tidak Semua Pedofil Mengindap Gangguan Jiwa

Tidak selalu apa yang kita anggap penting, juga menjadi penting bagi orang lain, so.. respon yang diterima/didengar relawan di luar dugaan dan bersifat menolak tentu saja harus diterima sebagai resiko seorang relawan yang sejak awal bekerja dengan niat yang tulus, dalam hal ini tentu saja harus menghindari diri dari untuk “memaksakan pendapat” kepada orang lain, apalagi terkesan “menakuti-nakuti”. Harus disadari juga bahwa banyak hal bisa terjadi, tidak selalu niat baik akan ditanggapi, dinilai atau diterima dengan baik pula. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, bisa saja apa yang ditegaskan orang tua tersebut merupakan pertanyaan yang wajar yang harus dijawab secara bijaksana untuk menciptakan suasana diskusi yang bermanfaat. Jadi selain memerlukan kesabaran, kedewasaan, bijaksana untuk mengevaluasi diri dalam bersikap perlu dikedepankan.

Cerita singkat diatas, bagi kami adalah sebagai masukan yang penting, walau mungkin merupakan pertanyaan yang wajar dapat saja merupakan sikap penolakan dari orang tua ketika relawan kami melaksanakan tugasnya.  Perbedaan presepsi itu wajar, dan sekali lagi tidak perlu dibesar-besarkan, karena toh di luar sana masih ada orang tua yang memerlukan bimbingan dan konsultasi secara pribadi atau dalam bentuk kelompok ketika mengikuti kegiatan sosialisasi pemanfaatan TIk, khususnya internet secara baik, aman, nyaman, dan bermanfaat bagi anak dan remaja. Asal dilaksanakan sesuai niat yang tulus dan dengan bahasa dan cara penyampaian dan metode yang tepat serta peka untuk memperhatikan situasi dan kondisi yang ada.

***

Nah, sekelumit penjelasan yang agak basi mungkin ngebacanya, merupakan kondisi ril yang terjadi di masyarakat. Ada yang memang membutuhkan bantuan para relawan, ada pula yang acuh tak acuh karena sudah tau atau bisa juga karena ketidaktahuan mereka, menyebabkan keberadaan relawan merasa diri mereka tidak begitu penting lagi dan pada akhirnya menyerah untuk melanjutkan niat baik yang sejak awal telah diamini.

Hal ini pula yang kadang perlu saya sampaikan kepada orang tua secara luas, tanpa harus membela diri maupun para relawan, bahwa keberadaan relawan TIK atau komunitas sejenis yang bergerak dalam gerakan internet sehat dan aman pada dasarnya bekerja secara sukarela dengan niat yang tulus (kecuali ada yang “suka” saja, namun “rela” nya menjadi nomer sekian).

Baja Juga :  Mau Menutup Facebook Selamanya? Ini Caranya!

Penyampaian informasi tentang kewaspadaan dalam pemanfaatan internet termasuk mengajarkan cara pemanfaataannya untuk meningkatkan ilmu, bakat, prestasi bahkan “pendapatan” (internet marketing misalnya) dapat disampaikan dengan cara yang berbeda sesuai pengetahuan, referensi, metode dan pengalaman mereka, khususnya dapat dilihat dan dinilai melalui sikap, gaya dan bahasa yang mereka gunakan/perlihatkan dalam penyampaian materi. Tetapi sekali lagi apapun keberadaan mereka, mereka adalah sukarelawan (saya lebih suka menyebut relawan saja), yang sesungguhnya terpanggil karena peduli, bukan memanfaatkan kegiatan sebagai ajang untuk memamerkan kepintaran dan kepiawaian mereka bahwa merekalah “dewa” yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kalaupun ada yang terkesan begitu, itu mungkin hanya perasaan bapak/ibu saja.  Tetapi kalau memang dapat dibuktikan bahwa kegiatan tersebut disalahgunakan untuk tujuan komersil apalagi justeru menjerumuskan, Bapak/Ibu dapat mengambil sikap saat itu juga, dan dapat melaporkannya kepada penyelenggara atau pengurus komunitas tersebut

Lebih jauh dari itu, terkait materi, ketika bapak/ibu merasa terpaksa harus mengikuti kegiatan sosialisasi bersama orang tua lain karena dilaksanakan oleh komunitas, organisasi atau katakanlah oleh sekolah dimana anak bapak dan ibu menempuh pendidikan. Walaupun Bapak/Ibu merasa diri lebih “jagoan” atau menganggap bahwa materi yang disampaikan dapat dengan mudah ditemukan saat memanfaatkan “mbah Google”, pahamilah bahwa orang tua lain mungkin belum tahu, sehingga keberadaan bapak/ibu jika menghadiri kegiatan-kegiatan sosialisasi terkait pemanfaatan TIK, alangkah bijaksananya bisa ikut berperan, sharing pengalaman atau melengkapi untuk memperjelas materi yang disampaikan oleh para relawan. Bagikan ilmu dan pengalaman Bapak/Ibu untuk menambah bobot dari kegiatan yang dilaksanakan. Saya rasa tidak berlebihan, karena kehadiran Bapak/Ibu dalam kegiatan tersebut secara sadar dengan tujuan yang baik. Bukankah begitu lebih baik adanya? Atau saya yang terlalu berlebihan?

Kemudian bagi Bapak/Ibu yang benar-benar masih awam dan merasa diri “gaptek”, mungkin akan sulit menerima materi yang disampaikan. Bila materi disampaikan dengan menggunakan bahasa “dewa”, usulkan kepada para relawan untuk dapat menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya yakin bahwa para relawan pasti memenuhinya. Jika hal ini tidak diungkapkan, maka selanjutnya Bapak/Ibu akan menemui kesulitan dalam memahami materi yang dibawakan, dan kemudian bosan, ngantuk, mencari kesibukan sendiri,  atau segera meninggalkan arena. Kalau begini adanya, kehadiran Bapak/Ibu tidaklah berbuah hasil untuk mendapatkan pengetahuan atau pemahaman baru, apalagi materi tersebut bertujuan untuk menjaga anak dan remaja agar terhindar dari dampak penyalahgunaan internet misalnya.

Baja Juga :  Beberapa Metode Membangun Karakter di Sekolah dan Bagi Siswa

Selanjutnya jangan segan untuk bertanya, atau tidak usah gunakan kata segan, saya gunakan kata malas atau malu atau apalah yang membuat Bapak/Ibu berlalu begitu saja walau masih ada sejuta atau secuil pertanyaan apalagi tidak mengerti namun merasa materi yang dipaparkan cukup penting. Jik waktu dan kondisi memungkinkan manfaatkanlah, namun jika ditunda untuk sementara, paling tidak mintakan no kontak, minimal email untuk mengajukan pertanyaan nanti.

Yang terakhir, jika Bapak/Ibu sudah memahami materi yang disampaikan, bagikan hal tersebut bagi orang tua yang lain, minimal bagi keluarga terdekat. Karena ketika Bapak/Ibu meninggalkan “arena”, harapan para relawan, Bapak/Ibu dapat meneruskan untuk kebaikan bersama. Dan yang paling penting dapat berdiskusi (bukan menghakimi dan menjadi galak) bersama anak di rumah dalam suasana yang rileks (jangan dipaksakan) agar mereka dapat menerimanya dengan baik.

Jadi kesimpulan dari ocehan tambahan saya agar panjang tulisan ini, mungkin bisa menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi para orang tua maupun para relawan. Mengingat rambut boleh hitam, isi kepala bisa saja lain, kalaupun ada pendapat yang lain, dengan senang hati dapat diterima dan dimaklumi. Tidak muluk-muluk, semoga tidak menjadi harapan saya saja, tetapi juga menjadi harapan bersama, marilah saling terbuka, mengisi dan melengkapi diri karena tujuan daripada sosialisasi atau bentuk kegiatan lain yang sejenis dalam rangka memasyarakatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara baik, bijaksana, bertanggung jawab, aman, bermanfaat dan lain sebagainya, dapat menghindari anak-anak kita dari pengaruh buruk penyalahgunaannya sekaligus dapat menjadi masukan untuk mengarahkan mereka menjadi generasi penerus yang cerdas dan bermoral untuk menghadapi masa depan mereka nantinya.

Salam

Sumber Gambar : thinktheology.org

Choose your Reaction!