Makan tidak Makan yang Penting Bisa Ngenet

0

“Makan nggak makan asal connect”, istilah ini menurut pengakuan Chief Operations, MarkPlus Insight, Levina Yulianti, pertama kali diperkenalkan oleh lembaga riset MarkPlus Insight  sejak pertama kali membuat studi terhadap netizen di Indonesia pada tahun 2010.

Melalui the-marketeers.com, (30/10/2013), setelah empat kali meneliti behavior dari para pengguna internet aktif di Indonesia, menurut  Waizly Darwin (Chief Executive, Marketeers) bahwa para netizen di Indonesia memang semakin ‘lapar‘ terhadap bandwidth.

Survey ini menunjukan bahwa netizen Indonesia  rata-rata menghabiskan uangnya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 untuk kebutuhan  internet per bulan. Bahkan terdapat 16,8% netizen yang rela merogoh koceknya  di atas Rp 150.000 per bulan hanya untuk keperluan internet.

Menurut hasil riset lembaga ini, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia tumbuh signifikan hingga 22% dari 62 juta di tahun 2012 menjadi 74,57 juta di tahun 2013. Menurut prediksi mereka, angka jumlah pengguna internet di Indonesia akan menembus 100 juta jiwa di tahun 2015 nanti.

***

Apa yang dijelaskan diatas, adalah sebagian fakta dan data tentang pengguna internet di Indonesia yang di sampaikan oleh Mas Valentino melalui  rangkaian kegiatan “road to school“  Sosialisasi pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)  dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2013.

Kegiatan pertama dilaksanakan pada Hari Kamis, 12 Desember 2013, yaitu dengan melakukan sosialisasi pemanfaatan TIK kepada pelajar SMPN 115, Tebet, Jakarta Selatan. Salah satu SMP Negeri Favorit di Jakarta, yang pada tahun ajaran 2012 – 2013, menempati peringkat pertama se Jakarta dan peringkat ke dua untuk Indonesia, dengan nilai rata-rata UN 9,11.

Tidak berbeda dengan hasil dialog maupun dari angket yang dibagikan oleh IDKITA Kompasiana selama melakukan sosialisasi di beberapa sekolah lainnya. Data dan hasil dialog  menunjukan bahwa mulai dari pelajar SD kelas 5 hingga SMP kelas 9,  sebagian besar (hampir 100%) mengaku pernah menemukan konten pornografi baik sengaja maupun tidak disengaja ketika mereka berselancar di internet.

Dengan fakta-fakta tersebut Mas Valentino mengingatkan para pelajar bahwa merekalah yang dapat membentengi diri mereka sendiri, Oleh karenanya jangan sampai merugikan masa depan mereka. “Sekali kalian posting sesuatu di internet, maka selamanya akan ada di sana!”

Lebih lanjut menurutnya, pelajar yang berprestasi dan berhasil di masa depan, tidak hanya bermodalkan nilai akademik saja namun lebih dari itu generasi penerus bangsa harus memiliki moral dan akhlak yang baik. Oleh karenanya perlu memahami etika/etiket, hukum dan norma lain yang berlaku dan telah diterima oleh masyarakat kita secara turun temurun.

***

Kegiatan kedua dalam bulan Desember, dilaksanakan di SD Negeri 03 Pagi, Grogol, Jakarta Barat pada tanggal 18 Desember 2013, seperti yang telah dilaporkan oleh Mbak Christie, yang berjudul “Parenting Control Bukan untuk Mengawasi Suami, Ya!“.

Dalam sosialisasi dan dialog bersama pelajar SD kelas 5 dan 6 serta orang tua mereka (terbagi dalam dua sesi), Mas Valentino yang dalam kesempatan tersebut ditemani kompasianer dan relawan IDKITA Kompasiana, Choirul Huda, lebih banyak menitikberatkan pada peran orang tua dan guru dalam menanggulangi penyalahgunaan permanfaatan TIK oleh murid atau anak-anak mereka.

Baja Juga :  Apa Saja yang Perlu Anda Ketahui Tentang Internet of Things

Dengan mengutip beberapa hasil penelitian dari para ahli khususnya psikolog bahwa kecanduan pornografi sama atau bahkan lebih berbahaya dari kecanduan narkoba, maka orang tua perlu bijaksana dalam memberikan smartphone kepada anak berusia sekolah dasar dan perlu meluangkan waktu untuk menemani putra/putri mereka ketika memanfaatkan internet baik di rumah maupun di Warnet (warung Internet) yang berada di lingkungan tinggal mereka.

Catatan penting  yang disampaikan oleh Mas Valentino, setelah melakukan sosialisasi di SDN 03 Pagi ini dan merangkum kegiatan yang sama di SD lainnya, dia hampir hopeless ketika  melihat kenyataan bahwa kebanyakan orang tua tidak peduli  kapan saatnya anak mereka diberikan kebebasan dalam mengakses internet, yang penting “anak tidak mati gaya” dalam pergaulan. Smartphone kelihatanya sudah menjadi kebutuhan semua orang bahkan untuk  anak di usia di bawah 12 tahun.

Menyoroti pemanfaatan internet untuk pendidikan dasar, Mas Valentino dan para relawan IDKITA Kompasiana terus berusaha untuk meyakinkan guru, orang tua bahkan pemerintah bahwa untuk usia anak hingga 10 tahun perlu dibatasi pemanfaatan internet secara proporsional. Pada rentang usia tersebut, anak justeru perlu dididik secara nature seperti halnya pendidikan yang selama ini dialami oleh generasi sebelumnya.

Perpustakaan adalah tempat mereka secara alamiah menggali sumber informasi, mencatat dan meringkas tugas-tugas yang diberikan. Pengaruh internet  dapat membuat anak bingung dan “dicuci otaknya” lewat berbagai informasi yang bebas ditemukan di Internet.  Pendidikan agama, rasa cinta kepada tanah air, bermain sambil belajar menjadi penting untuk diperhatikan dan menjadi titik perhatian kurikulum pendidikan dasar. Dalam kenyataannya, materi pelajaran dari kurikulum  yang berlaku memaksa anak untuk mencari secara instan, mendapatkan jawaban dari tugas-tugasnya melalui internet. Lebih parahnya lagi, guru-guru SD menganggap biasa ketika menugaskan siswa mereka untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan mencari melalui internet.

***

Kegiatan ke tiga, atas permintaan Komite Sekolah, SMP Negeri 115, Tebet, Jakarta Selatan. IDKITA Kompasiana diminta untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi pemanfaatan TIK  kepada orang tua siswa bertepatan dengan jadwal pengambilan raport siswa.

Kamis, 19 Desember 2013, ditemani oleh salah satu Finalis Duta Internet Sehat dan Aman tahun 2013, Clarensia Michelle, Mas Valentino mengajak orang tua siswa kelas 7 untuk bersama-sama  mengevaluasi berbagai fakta tentang pemanfataan maupun  penyalahgunaan TIK  internet di Indonesia.

 

Pada kesempatan tersebut, Mas Valentino mengatakan bahwa upaya pemblokiran konten pornografi atau konten berbahaya lainnya di Indonesia memang masih terus diupayakan oleh pemerintah. Pada kenyataannya memang terkesan lamban dalam mengatasi masalah ini. Bahkan perusahaan-perusahaan besar internet di dunia, seperti Microsoft dan Google terus berupaya menapis konten-konten yang mengandung pelecehan terhadap anak-anak. Semua pihak terus berupaya, namun seiring dengan itu membanjir pula konten-konten berbahaya baru lainnya di “jagat maya”.

Oleh karena itu, Mas Valentino mengajak semua orang untuk melakukan upaya mandiri, yaitu upaya untuk melaporkan setiap konten berbahaya bila ditemukan dan menghentikan broadcast konten pornografi walau dengan alasan lelucon sekalipun melalui smartphone mereka. Termasuk dengan tindakan yang kurang terpuji ketika “meng-share” pornografi anak melalui akun jejaring sosial.

 

Baja Juga :  Pengenalan Tentang ‘Internet Sehat’ di GKJ Eben Haezer

Lebih lanjut menurut Mas Valentino, sepertinya semua orang lupa  bahwa dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, khususnya Pasal 4 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit. Pelanggaran atas pasal tersebut tertuang dalam Pasal 29,  di mana disebutkan bahwa dapat dipidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Semua jari menuding dan mengolok-olok para korban pornografi anak, dan merasa hal biasa ketika melihat orang lain dengan bebas menyebarluaskan konten pornografi anak.  Selain menghadapi ancaman hukum, para korban pornografi (khususnya yang berusia anak-anak)  juga menghadapi masalah serius dalam memulihkan kondisi psikis mereka karena berhadapan dengan sanksi sosial dari masyarakat luas. Oleh sebab itu, penegak hukum diharapkan dapat bertindak “tegas” dan adil terhadap para penyebar konten-konten pornografi anak tersebut.

***

Kegiatan ke empat  dan ke lima, dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2013 di sekolah yang sama yaitu di SMP Negeri 115, Tebet, Jakarta Selatan.

Kegiatan pertama pada hari tersebut dilaksanakan pada jam 8 pagi WIB, yaitu untuk orang tua siswa kelas 9. Walau molor beberapa menit, kegiatan dibuka dengan sambutan wakil kepala sekolah dan perwakilan dari komite sekolah.

Sebagai nara sumber, selain Mas Valentino, juga hadir Mbak Christie dan dua Finalis Duta Internet Sehat dan Aman tahun 2013, yaitu Clarensia Michelle dan Alicia Kartika.

 

Seperti biasa, Mas Valentino menyajikan fakta-fakta tentang pemanfaatan TIK di Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan paparan oleh kedua Finalis.

Michelle dan Alicia, terlihat sangat percaya diri berbicara di depan orang tua siswa, walau mereka sendiri masih duduk di kelas 9 SMP.  Selain memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang proses pemilihan Duta Internet Sehat dan Aman tahun 2013 yang diprakarsai oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, direktorat Pemberdayaan Informatika, mereka juga menjelaskan kegiatan sosialisasi yang telah mereka lakukan kepada teman sebayanya.

Harapan Michelle dan Alicia, para pelajar SMPN 115 Tebet, Jakarta Selatan, dapat turut serta menjadi contoh dan panutan  dalam pemanfaatan internet secara CAKAP (cerdas, kreatif dan produktif)  sekaligus dapat ikut secara aktif mensosialisasikannya kepada teman-teman sebaya lainnya.

Nara sumber terakhir adalah Mbak Christie, dimana beliau lebih banyak menekankan pada sisi positif pemanfaatan internet, khususnya dalam menulis. Dengan menceritakan pengalamannya dan manfaat apa saja yang dapat dipetik dalam beraktivitas secara positif di Internet, Mbak Christie mengajak orang tua siswa untuk dapat merangsang anak-anak mereka memanfaatkan TIK secara baik dan benar, minimal dengan kegiatan menulis.

Walau waktu terasa singkat, antusias dari para orang tua siswa memberikan apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan IDKITA selama ini. Bahkan mereka bermaksud untuk meminta kembali IDKITA Kompasiana mengisi kegiatan Workshop Parenting Control kepada semua orang tua siswa secara bertahap dan dibagi dalam beberapa hari.  Hal yang sama juga diinginkan oleh orang tua siswa kelas 7 pada kegiatan ketiga, Kamis 19 Desember 2013.

Baja Juga :  Seminar : Disabilitas Dapat Mengakibatkan Masalah Kemiskinan

***

1387718772257942616

Setelah kegiatan ke empat, tim IDKITA  bersama kedua Finalis Duta Internet Sehat dan Aman (INSAN) tahun 2013, memutuskan untuk tidak beranjak dari lokasi dan menunggu hingga jam 13.00 WIB, untuk melakukan sosialisasi yang sama.

Kegiatan kelima sebagai bagian “road to school” memperingati hari ibu tahun 2013 ini, dilaksanakan pada pukul 13.30, molor 30 menit dari rencana semula.

Setelah kegiatan dibuka oleh wakil kepala sekolah dan sambutan singkat dari perwakilan komite sekolah, orang tua siswa kelas 8 kembali disajikan dengan fakta-fakta tentang pemanfaatan TIK di Indonesia, dengan titik berat pada dua issue penting, yaitu Sexting dan Selfie. Dua istilah yang mungkin jarang didengar atau dibaca oleh banyak orang, namun menjadi catatan khusus dan sangat penting oleh IDKITA Kompasiana.

Terkait Selfie, Mas Valentino mengingatkan bahwa walau “narsis” adalah hak setiap orang, namun perlu diingat bahwa apa yang telah tersimpan di dalam kartu memori, walaupun sudah dihapus dapat dikembalikan lagi (restore/undelete).

Kadang pemilik smartphone secara tidak sadar melakukan Selfie yang dibuat secara “iseng”  dan mungkin bersifat “terbuka” dan kurang pantas. Mereka melakukan hal ini karena berpikir bahwa foto yang diambil tersebut  kemudian dapat dihapus. Tanpa sadar ketika smartphone atau kamera digital di service atau terjadi transaksi “tukar tambah”, kartu memori dibiarkan begitu saja tanpa berpikir bahwa foto-foto atau bahkan data yang pernah diambil/tersimpan dapat di-restore kembali.

Sedangkan terkait dengan Sexting, Mas Valentino mengingatkan bahwa kegiatan chatting dengan mengirimkan konten yang mengadung  pornografi tidak dapat dicegah oleh pemerintah seperti melakukan pemblokiran terhadap situs berbahaya. Percakapan melalui sms atau Chatting bersifat privasi, sehingga sulit untuk dimonitor. Oleh karena itu, orang tua perlu berdialog dengan anak-anak mereka mengenai pemanfaatan smartphone secara baik dan benar, jangan sampai disalahgunakan.

 

Selain pengawasan langsung orang tua, salah satu solusi yang diberikan oleh Mas Valentino yaitu dengan memanfaatkan NQ Family Guardian yang pernah dibahas oleh saya  dengan judul  Amankan Anak Menggunakan Smartphone Dengan “NQ Family Guardian”

Setelah paparan singkat dari Mas Valentino, kedua Fianlis Duta Internet Sehat dan Aman (INSAN) tahun 2013, kembali memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang program-program kegiatan yang sudah dan akan mereka lakukan, yang tentunya melakukan sosialisasi pemanfaatan internet secara CAKAP di kalangan remaja.

Sebagai penutup, Mbak Christie menitikberatkan pada pemanfaatan internet secara baik dan benar, dimana beliau sendiri dapat memetik manfaatnya.

***

Secara keseluruhan kegiatan “road to school” dalam rangka Hari Ibu tahun 2013 dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta mendapat apresiasi dari para orang tua yang pada umumnya yang kemudian meminta IDKITA Kompasiana untuk kembali mengadakan kegiatan Workshop “Parenting Control”  di sekolah mereka masing-masing.

Kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik, berkat dukungan dari berbagai pihak, terutama ketua umum KOWANI (Kongres Wanita Indonesia), Ibu Dr. Dewi Motik Pramono, Msi  dan Jajaran Direksi Indosat.

Semoga apa yang telah kami lakukan dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Selamat Hari Ibu Nasional Tahun 2013!

Sumber :

http://teknologi.kompasiana.com/internet/2013/12/22/mangan-ora-mangan-sing-penting-connect-620763.html

Sumber Gambar : the-marketeers.com

Choose your Reaction!