Kasus Video Porno: Pemerintah Lamban, Rakyat Juga Bisa Bertindak

Ada sebagian dari kita yang berpikir bahwa urusan pemblokiran video porno khususnya di Youtube dan Facebook adalah urusan pemerintah, sehingga kitasering ngelus dada, ngomel-ngomel dan merasa miris sambil menunggu lamanya tindakan walau sudah dilaporkan. Padahal, selain menunggu, kita (yang tentunya peduli) dapat melakukan hal itu, dengan meminta Facebook atau Google untuk menghapus video bermuatan pornografi. Tergantung kita mau melakukannya atau tidak.

Seperti yang sudah dilakukan IDKITA, walau baru kali ini kami publikasi, kita dapat berargumen dengan Facebook bahkan Google, terkait video-video yang terutama mengekspolitasi unsur seksual pada anak dan remaja

Dibawah ini ada beberapa contoh hasil upaya dari IDKITA. Yang menarik adalah, terdapat video yang sudah tayang selama 6 bulan dan sudah tersebar di media online namun karena dirasa “biasa saja” tidak ada yang mengambil tindakan. Atau bisa saja Google menganggap video tersebut biasa saja. Video yang dimaksud adalah adegan sepasang pelajar yang sedang melakukan hubungan “mesra” di sebuah warnet, Video ini tadinya tidak pernah digubris oleh Google, walau kami sudah melaporkan berkali-kali. Namun pada akhirnya Google mau membuang video yang dimaksud.

ortu

Sumber Gambar: Dok. Idkita

ortu

Sumber Gambar: Dok. Idkita

Kami sadar ada sebagian orang yang me-repost video yang sama dan masih tersebar, namun dengan permohonan kami yang telah diloloskan pihak Google, maka hal ini dapat menjadi acuan untuk meremove video yang sama atau video lain yang sejenis dengan itu. Sehingga sedikit dipermudah, karena Google pernah melakukan hal yang sama untuk jenis video yang sama pula.

Adapun beberapa argumen yang dapat diajukan kepada Google adalah sebagai berikut,

  1. Apakah dada, pantat, atau alat kelamin (berpakaian atau tidak) menjadi titik fokus video;
  2. Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
  3. Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan birahi pemirsa;
  4. Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan/atau cabul;
  5. Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, menari yang merangsang, mencumbu);
  6. Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
Baja Juga :  Dari Pelajar, Oleh Pelajar dan Untuk Pelajar

Ini bukan argumen asal karangan dari kami, namun ini adalah ketentuan dari Google sendiri. Sehingga dengan dasar inilah yang dapat digunakan oleh kita untuk memohon kepada Google, dalam hal ini youtube, untuk me-remove video-video yang menurut budaya dan hukum kita dilarang.

Apabila anda peduli dan ingin bergabung bersama kami dan aktivis lain dalam hal ini, usahakan melakukan screenshot video tersebut dan berilah beberapa keterangan pada lembaran laporan (MS WORD misalnya) yang isinya tentang detil video tersebut, baik tanggal unggah, alamat url, pemilik akun dan lain sebagainya.

Dokumen yang dibuat ini sangat berguna apabila diberikan kepada pihak berwajib untuk melakukan penindakan kepada mereka yang mengunggah video-video porno tersebut.

Memang tidak mudah membersihkan konten vulgar, terutama yang mengeksploitasi anak secara seksual lewat media sosial, terkhususnya di Youtube dan Facebook. Tapi bila hal ini dilakukan bersama, dengan kerelaan dan kepedulian, sedikit banyak kita dapat menguranginya.

Jika anda peduli dan tidak mau report, saat anda mendapati konten dewasa yang mengeksploitasi anak dan remaja yang seharusnya dilindungi undang-undang, silahkan kirimkan email kepada kami yaitu ke aduan.idkita@gmail.com atau info@idkita.com. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memprosesnya dengan cepat.

Dengan tulisan yang singkat ini, kami perlu menyampaikan, bahwa tidak perlu lagi kita terus menerus tergantung pada pemerintah, yang sudah seharusnya menangani masalah ini dengan serius. Biarlah mereka bekerja dengan cara mereka, dan kelak kita dapat menilai kinerja mereka. Sementara ini, bagi yang mau, rela dan peduli terhadap pelecehan dan pelanggaran terhadap anak d bawah umur bisa ikut berperan aktif dengan banyak cara, dan seperti yang kami sampaikan ini adalah salah satunya.

Baja Juga :  Rencana Tema Gerakan Baru IDKita

Selamat pagi dan selamat beraktivitas…

Sumber gambar: Koleksi IDKita

*Ditayangkan di Kompasiana, pada tanggal 30 October 2013 | 08:09

Choose your Reaction!