Ketika Kekompakan Melahirkan Dream Team yang Menyatukan

Salah satu gaya manajemen Dahlan Iskan, menteri negara BUMN,  yang menjadi perhatian saya, ketika seorang teman memberikan sebuah tautan yang berisi tentang ulasan Dahlan. Tautan tersebut merupakan kolom Menneg BUMN Dahlan Iskan di Vivanews, tanggal 12 Mei 2012, dibawah judul “Mbah Surip Lokal untuk Garuda”.

Intinya ada dua hal yang dapat saya petik, yang pertama dalam hal pembentukan dream team manajemen  dan soal keberanian mengambil keputusan.

Menurut Dahlan, membentuk “dream team” manajemen Garuda memang memerlukan orang pintar. Tetapi tidak harus semua orang pintar dikumpulkan jadi satu.  Walau memang kelihatannya logis, namun dalam kenyataannya para star tersebut bisa saja saling bertentangan, atau bila terjadi perang antara star melawan star atau juga bisa disebut sebagai perang bintang.

Dalam analoginya, Dahlan mengambil contoh dari sebuah sebuah “guyonan” ala Surabaya, “soto yang paling enak dicampur dengan rawon yang paling enak rasanya justru jadi kacau!“.

Lalu bagaimana Dahlan membentuk dream team Garuda? Disamping memang memerlukan orang pintar dan sederetan persyaratan lainnya, Dahlan juga mengutamakan kekompakan. Tim yang serasi, saling melengkapi, dan solid.

Untuk mendukung gagasannya itu, Dahlan mengambil sebuah contoh seorang pahlawan jepang, Toyotomi Hideyoshi. Sebagai panglima yang menyatukan Jepang di abad ke-16, Hideyoshi memiliki modal utama kekompakan. Bahkan dia sendiri mengakui bukan seorang yang ahli memainkan pedang. Karena itu Hideyoshi mendapat gelar Samurai Tanpa Pedang.

Selain gambaran membentuk tim ideal dalam mengurusi satu perusahaan atau institusi, Dahlan juga menujukan gaya kepimpinannya yang tidak ragu mendukung keputusan yang dibuat oleh para pimpinan BUMN.

Dalam hal pengambilan keputusan, Dahlan tidak melulu mengintervensi BUMN. Misalnya untuk masalah kepemilikan saham Garuda oleh tiga sekuritas BUMN, Dahlan  mengaku tidak mencampuri pilihan mana yang terbaik. Mau dipertahakan atau dijualnya saham Garuda adalah menjadi keputusan BUMN. Dia hanya merestui saja.

Baja Juga :  Penelitian : Tidak Semua Pedofil Mengindap Gangguan Jiwa

Bagi Dahlan, direksi tiga perusahaan yang memegang saham Garuda adalah orang-orang yang hebat yang sudah malang-melintang di bidangnya. Bagi Dahlan, yang penting mengambil keputuskan, “risiko dikecam adalah bagian dari kehidupan yang sangat indah! Ambillah putusan terbaik dengan fokus tujuan demi kejayaan perusahaan!” Katanya

Lebih lanjut Dahlan mengatakan, “apabila menunda keputusan hanya karena takut heboh, perusahaanlah yang akan menjadi sulit. Kalau perusahaan menjadi sulit banyak yang akan menderita. Orang-orang yang dulu mengecam itu (atau memuji itu) tidak akan ikut bersedih! Jadikan kecaman-kecaman itu bahan mengingatkan diri sendiri agar jangan ada main-main di sini. Takutlah pada permainan pat-gulipat!

***

Belajar dari hal tersebut, adalah merupakan masukan berharga bagi saya, apalagi akan terjun pada kegiatan-kegiatan dalam komunitas kami, IDKita Kompasiana yang sebelumnya dibesarkan dalam Cengengesan Family (CF). Banyak hal yang sudah saya pelajari dalam komunitas tersebut. Kami mengalami pasang surut walau dalam penampilan luarnya kami berusaha untuk menghadirkan tulisan-tulisan yang baik.

Ya, belajar dan kekompakan memang adalah kata kuncinya. Kami terus belajar mengenal satu dengan lainnya dan terus mengasah kemampuan menulis. Namun untuk melaksakan berbagai kegiatan besar yang hanya dikendalikan dan dikoordinasikan secara online, saya belum banyak belajar. Apalagi tema-tema yang diangkat banyak diluar kemampuan dan pengetahuan saya

Jujur saja, kalau mau dilihat siapa sih kami? Hanya terdiri dari beberapa ibu-ibu rumah tangga, pekerja atau mahasiswa yang mungkin akan dipandang sebelah mata bagi mereka yang memiliki pendidikan dan pengalaman yang tinggi.

Namun kenapa kami bisa sejauh itu melangkah? Ini juga karena kekompakan, rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang telah dibina sejak lama. Lalu dimana keberanian itu kalau tidak memiliki kemampuan maksimal? Bagi koordinator kami, yang memang dikenal cukup keras dalam memberikan bimbingan, memiliki prinsip tidak ada kata “tidak bisa” sebelum mencoba dan berusaha. Menurutnya, masing-masing orang berperan sesuai porsinya, apalagi tugas/fungsi yang diberikan tidak akan melebihi kemampuan masing-masing orang. Baginya, semua orang adalah penting, tidak ada siapa yang lebih penting dari yang lain. Karena semua dianggap penting, maka semua orang harus dapat memberikan kontribusi positif.

Baja Juga :  Sosialisasi Ineternet Sehat : IDKITA Mengunjungi Kota Malang

Sebuah dream team untuk mengusung tema-tema yang tidak saya kuasai? Apalagi diberi tugas untuk mengatur administrasinya? Secara online pula? Oh my God, jujur saja saya “keder” dan kadang tidak percaya diri untuk mampu melaksanakannya.

Saya kadang juga bertanya apakah ini bentuk dari eksklusifitas apabila kita tidak membuka diri kepada banyak orang? Bahkan saya pernah mengusulkan untuk menghimpun orang lain yang mumpuni, mempunyai keahlian yang tinggi atau kumpulan orang-orang pintar. Namun dia menjawab belum saatnya, karena yang terjadi nantinya bukan soal pembagian kekuasaan, pembagian pamor, pembagian dan pengelompokan tingkat kepintaran atau pendidikan, pembagian kepentingan, apalagi berpikir untuk pembagian keuntungan. Semuanya hanya dititikberatkan pada pembagian fungsi kerja.

Dalam gerakan sosial dan moral, yang dilakukan adalah pembagian fungsi, dimana masing-masing fungsi sangat penting. Jangan diartikan pembagian kekuasaan masing-masing orang menunjukan siapa yang jagoan. Tidak ada yang jagoan. Menurutnya, harus dipahami adanya fungsi manajemen, administrasi, teknis dan operasional. Setiap orang nantinya bekerja berdasarkan fungsinya tanpa embel-embel macam-macam.

Dalam perjalanannya, memang benar, kami yang hanya terdiri dari segelintir orang saja diberikan porsi untuk bekerja dan mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas kami. Walau kami pun dipersiapkan sebagai pelaksana di lapangan, saat ini kami juga membuka kesempatan bagi siapa saja baik tenaga ahli, teknis, operasional dalam persiapan maupun pelaksanaan di lapangan nantinya.

Lalu bagaimana dengan tantangan? Sama seperti yang diucapkan oleh Pak Dahlan di atas, bahkan mungkin lebih seperti akan berhadapan dengan cacian, ancaman, cibiran, penghinaan dan segala macam bentuk pelecehan. Bagi dia, itu kenyataan yang harus dihadapi.  Jangan dilemahkan, namun menjadi cambuk.

Lebih lanjut kami diingatkan mengenai prioritas dalam hidup kami yang harus didahulukan; keluarga, pekerjaan dan kesehatan. Tiga hal yang tidak boleh dikorbankan sebelum terjun dalam sebuah gerakan moral ini.

Baja Juga :  Menjaga Privasi dan Aktivitas Online dari Pelacakan

Perjalanan memang masih panjang, banyak yang harus saya pelajari namun harus tetap mengasah lagi yang sudah saya pelajari, terutama mempertahankan semangat yang ada. Setidaknya semuanya ini menjadi pelajaran berharga bagi diri saya pribadi, sekarang dan untuk waktu yang akan datang…

13369349141150449201

***Selamat pagi***

ID Kita Kompasiana merupakan komunitas yang dibentuk oleh kompasianer untuk mengampanyekan internet sehat di indonesia lewat tulisan-tulisan dan aktifitas di kompasiana.

Ilustrasi: zazzle.com

*Ditayangkan di Kompasiana pada tanggal 14 May 2012 | 13:37

Choose your Reaction!