Memahami Perkembangan Otak Mereka Remaja yang Masih Labil

Young girl texting

Punya anak remaja? Bagaimana anda menghadapi mereka di era teknologi yang serba maju dewasa ini? Pusing atau malah biasa-biasa saja? Apalagi melihat kenyataan bahwa remaja sekarang banyak mengalami permasalahan dengan perilaku dan pergaulan mereka. Walau putri semata wayang saya belum berusia remaja, namun kadang sulit menghadapinya. Kemauannya keras dan keukeuh kalau sudah kepingin sesuatu. Belum terbayang ketika ia remaja nanti, namun sudah menjadi tanggung jawab saya mempersiapkannya pada masa-masa itu,

Melihat tingkah polah keponakan saya yang kini telah remaja, saya jadi ngelus dada sendiri. Sifat pemberontak dan maunya sendiri kadang membuat orang tuanya pusing tujuh keliling. Tapi apa mau dikata, karakter anak sudah terbentuk sejak kecil, kini harus ada upaya ekstra dari orang tuanya untuk mengawasi dan membimbingnya agar tidak melakukan tindakan yang ceroboh dan mengganggu masa depannya nanti.

Mungkin mudah ketika saya memiliki pendapat sendiri dalam menangani remaja yang labil. Kelihatannya gampang namun saya sendiri belum tentu bisa menanganinya dengan baik. Oleh karena itu, wajar jika saat ini saya harus was-was untuk mendidik si kecil   sebaik mungkin agar di masa remajanya nanti saya tidak jadi pusing ‘dua ratus’ keliling 😀 .

Seperti yang ditulis oleh Livescience pada 22 April 2011, 10 Facts Every Parent Should Know about Their Teen’s Brain yang kemudian diterjemahkan dan diberitakan ulang oleh Detik Health pada tanggal 3 Oktober 2012,  dengan judul  10 Perubahan di Otak Remaja yang Bikin Galau dan Labil, orang tua memang harus memahami hal ini.

Berapa usia anak yang disebut remaja itu? Menurut Deswita, (2006:192) yang ditulis melalui wikipedia, Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian yaitu pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun. Sedangkan dalam artikel di atas, disebutkan usia remaja yaitu pada rentang antara 11 – 19 tahun.  Dengan demikian, orang tua yang memiliki anak jelang usia 10 atau 11 tahun setidaknya perlu memberikan perhatian khusus

Baja Juga :  Anak Perlu Waspadai Para Predator Seksual Online

Perkembangan otak remaja yang dibahas dalam artikel tersebut dikatakan akan mengalami puncaknya pada usia 11 tahun untuk anak perempuan dan 12 tahun untuk anak pria, otak mereka mulai mekar, yang artinya pada usia tersebut ketrampilan kognitif (Piaget: kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan) dan kemampuan baru akan muncul. Terjadi  lompatan besar dalam perkembangannya.

Memiliki kemampuan berpikir yang baru adalah salah satu diantara perkembangan otak mereka.  Otak remaja menjadi lebih efektif dalam mengolah informasi.  Remaja mulai memiliki kemampuan komputasi dan belajar mengambil keputusan seperti orang dewasa. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka kadang keukeuh dengan pendiriannya karena menganggap mereka bukan lagi anak kecil yang harus dituntun dan dinasehati terus menerus.

Walau demikian, ada orang tua yang membiarkan anak mereka mengambil keputusan sendiri bahkan ada kecenderungan ‘cuek’,  kelihatannya baik dan wajar agar anak diajarkan untuk dewasa, namun orang tua harus memahami bahwa anak masih dipengaruhi emosi  karena otaknya lebih mengandalkan sistem limbik (Medical Encyclopedia: struktur otak manusia  yang mendukung berbagai fungsi termasuk emosi, perilaku, memori jangka panjang, dan penciuman) yang masih mengedepankan emosi ketimbang korteks prefrontal (psikologis : adalah fungsi eksekutif yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara pikiran yang saling bertentangan, menentukan baik dan buruk, lebih baik dan terbaik, yang sama dan berbeda, prediksi hasil, harapan berdasarkan tindakan, dan kontrol sosial) yang mengolah informasi secara rasional.

Dikatakan selama masa remaja, sistem limbik lebih mendominasi perilaku remaja  dalam kemampuan perencanaan, pengendalian dorongan dan daya nalar yang lebih tinggi.  Bersamaan dengan perubahan hormonal, dominasi sistem limbik  membuat gejolak emosi lebih intens, misalnya kemarahan, ketakutan, agresi, kegembiraan dan daya tarik seksual.

Baja Juga :  Apa Perlu Menunggu Anak Diperkosa Kita Baru Sadar?

Mencoba hal yang baru adalah salah satu kajian dalam perkembangan otak anak dimana ketika mereka berada di tengah kesenangan dalam memperoleh keterampilan atau hal-hal yang baru yang menarik perhatiannya, terutama dalam kaitannya dengan perilaku sosial. Sering coba-coba adalah salah satu tindakan yang dapat membahayakan atau merugikan diri mereka sendiri. Bahkan kata penilitian tersebut,  orangtuanya sendiri kadang dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Terkait dengan keinginan mecoba semua yang baru tersebut, dua hal penting dari 10 point yang diuraikan oleh penelitian tersebut menyebutkan bahwa dengan dominasi sistem limbik dari perkembangan otak mereka, remaja tidak pandai dalam mengukur Risiko dan sangat memperhatikan kata teman.  Oleh sebab itu, para orang tua diharapkan dapat memahami hal ini, sehingga remaja sangat pantas untuk dikawal dan diawasi dalam setiap perilaku mereka.

Karena labil dan ingin agar mereka terlihat berbeda dan dinilai menonjol dari teman sebayanya, remaja kadang ceroboh dalam memilih teman dan gampang terbuai untuk mencoba sesuatu yang beresiko dan merugikan diri mereka.  Hal ini juga yang menyebabkan mereka dapat terlibat untuk mencoba narkoba, terlibat perkelahian atau perilaku lain yang tidak aman.

Dengan demikian, menangani anak remaja bukanlah hal mudah. Sebagai orang tua, diharapkan dapat mendekatkan diri secara emosional agar anak mau terbuka dan menjadikan kita sebagai tempat curhat dan diskusi dalam memecahkan persoalan-persoalan mereka. Akan tetapi, kedekatan diri bersama orang tua tidak berarti bahwa pengawasan dilonggarkan begitu saja.

Ah, mungkin terasa mudah jika belum menghadapinya langsung. Semoga saja saya juga dapat memetik manfaatnya, sebagai bekal untuk mempersiapkan anak saya sebelum memasuki usia remaja nanti.

Sumber Gambar : http://i.dailymail.co.uk

Baja Juga :  Orang Tua Perlu Mengevaluasi Diri Untuk Mendidik Generasi Digital Sejak Dini

Diposting di Kompasiana : 01 March 2013 | 06:21

Choose your Reaction!