Yuk Berupaya Menjadi “Penulis Sehat”

0

Menjadi penulis yang sehat? Apa hubungannya dengan internet sehat? Jangan-jangan sudah dipatenkan oleh orang/organisasi lain, seperti halnya istilah “Internet Sehat” yang dicetuskan oleh ICT Watch dan sudah dipatenkan,  mereka kadang memperingatkan berbagai pihak untuk berhati-hati menggunakan istilah ini  bila tanpa izin khususnya untuk dikomersialkan. Bukan saja perorangan, komunitas, organisasi bahkan pemerintah (Kemenkominfo) beberapa kali menerima “surat cinta” dari mereka. Alhasil, direktorat pemberdayaan informatika, kemenkominfo kelihatannya “terpaksa” mengubah istilah gerakan “Internet Sehat dan Aman” (padahal sudah ada tambahan kata amannya) menjadi gerakan “Internet CAKAP” yang artinya, pemanfaatan Internet secara Cerdas, Kreatif dan Produktif.

Hanya karena istilah saja sudah menegangkan urat leher, apalagi mau mendeklarasikan istilah baru. Padahal sejatinya, penggunaan istilah-istilah apapun dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan kemanusiaan sepanjang dilakukan dengan itikad dan tujuan yang baik tidaklah perlu dipermasalahkan. Hm.. Lama kelamaan untuk melakukan perbuatan baik, harus meminta izin dari berbagai pihak. Padahal untuk berbuat hal yang baik dengan menggunakan istilah apa saja, asal juga berkonotasi baik dan menghasilkan sesuatu yang baik (namanya juga perbuatan baik) adalah kewajiban atau sederhananya merupakan pilihan setiap manusia.

Tidak dibayangkan bila sang penemu World Wide Web, Sir Timothy John “Tim” Berners-Lee, mematenkan penemuannya. Namun dengan kebesaran hati,  kontribusi terbesarnya untuk memajukan World Wide Web diwujudkan dengan dengan tidak mempatenkannya sehingga masih dapat digunakan secara bebas oleh siapa saja.

Beda tim beda juga dengan watak dan prinsip orang lain, “rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala bisa berbeda-beda“, sehingga bisa dipahami saja sang empunya istilah yang dipatenkan tersebut, mungkin akan merasa rugi bila istilah tersebut digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang menurut kaca mata mereka akan merugikan mereka secara kelembagaan.

***

Keinginan untuk menjadi penulis yang “sehat”  menjadi salah satu pokok bahasan ketika tim IDKita mengunjungi SMP Muhammadiyah 5 Surakarta Jl. Slamet Riyadi No. 443 Surakarta, pada tanggal 28 Januari 2014.  Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian road show pemanfaatan TIK di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk bulan Januari 2014, bekerjasama dengan KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) dan PT. Indosat.

Baja Juga :  Sekalipun di Desa Siswa-Siswi Sudah “Melek” Internet

Kebetulan saja pada hari tersebut, sekolah sedang menyelenggarkan semacam pelatihan kepemimpinan dengan nama kegiatan “Taruna Melatih”, bertema “Simpati dalam Berorganisasi”,  dengan sub tema Jurnalistik Jadikan Media Misi Pimpinan Ranting IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) SMP Muhammadiyah 5 Surakarta.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan wartawan dari Koran Solo Pos untuk melatih para pengurus IPM dalam bidang jurnalistik.  Menariknya, saat break ISOMA, setelah IDKITA memberikan presentasi sang wartawan sempat “nyeletuk”, “sepertinya perlu juga menciptakan wartawan yang sehat”. Lagi-lagi istilah “sehat” ini disebutkan. Untuk istilah terakhir ini, mungkin dapat dibahas dalam kesempatan berbeda sesuai dengan kapasitas wartawan itu sendiri.

Pada hari yang sama, kebetulan juga adalah jadwal rutin siaran “Internet Sehat dan Aman”. Oleh karenanya, selama materi sosialisasi disampaikan, tim Idkita juga mengajak Radio Suara Edukasi, PUSTEKKOM, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  untuk menyiarkan kegiatan tersebut secara “live” dan melakukan wawancara langsung dengan seorang guru pembina dan dua orang siswi pengurus IPM.

***

Ketika membawa materi sosialisasi tentang “internet Sehat dan Aman” sebagai gerakan yang dicanangkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, kami memang kerap ditanyakan soal “apakah yang dimaksud dengan internet sehat, apakah internet itu sakit?”.  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, biasanya kami memberikan pemahaman sederhana bahwa istilah yang dimaksud adalah terkait dengan perilaku sehat pengguna internet.

Apa saja perilaku sehat itu? Dapat dilihat dari berbagai cara bagaimana pengguna memanfaatkan internet, berinteraksi dalam berbagai forum maupun jejaring sosial dan mempublikasikan segala sesuatu  (konten) yang sesuai  dengan etika/etiket dan aturan-aturan lain yang mengikat dalam kehidupan sehari-hari secara nyata seperti hukum dan norma yang umumnya telah diterima oleh masyarakat.

Untuk mendefinisikan pengertian “sehat”, semua orang boleh saja menggunakan pendekatan lain sesuai dengan kompetensi berdasarkan sudut pandang berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Namun pada intinya, perilaku yang “sehat” akan selalu menghasilkan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat baik untuk dirinya maupun banyak orang.

Baja Juga :  Sosialisasi Kekerasan Anak : IDKITA Bersama IWAPI Jawa Tengah

Begitu juga bila ingin menjadi penulis yang sehat, disamping menggunakan pendekatan yang disebutkan di atas, sejatinya semua orang dapat mewujudkannya. Karena pada hakikatnya manusia memiliki sifat dasar yang baik dan ingin berbagai hal yang baik pula untuk banyak orang, walau pada kenyataannya, hasil karya (tulisan) kita belum tentu ditanggapi secara baik pula oleh orang lain.

maka, langkah awal menjadi penulis yang sehat adalah tanyakan dulu pada diri kita sendiri, motivasi apa yang melatarbelakangi kita menulis. Kalau diawali dengan niat yang baik, tentu saja karakter anda akan “tergambar” dengan jelas dari buah karya yang tentunya pasti baik. Dengan begitu anda akan terus termotivasi menjadi penulis yang baik dan “sehat”.

Jika anda menulis dengan “jumawa” karena rasa ketidakadilan misalnya, mungkin saja tulisan anda akan diminati. Namun bila pilihan kalimat yang anda gunakan dalam menyuarakan pemikiran dan isi hati anda menabrak norma, etika atau bahkan hukum yang berlaku, cacian, sumpah serapah, fitnah, bahkan menyebarkan kebencian, karakter anda sebagai seorang penulis dapat dinilai dalam sisi yang berbeda terlepas dari yang anda tulis.

Lalu bagaimana dengan istilah, “Jangan melihat siapa yang menulis, tetapi apa yang ditulis?”. Anggapan ini ada benarnya, dalam artian untuk menjadi penulis adalah hak dan kesempatan bagi semua orang. Siapapun anda! Untuk menjadi penulis tidak diharuskan berasal dari golongan tertentu, memiliki pendidikan tertentu atau tinggi, latar belakang ekonomi mapan dan lain sebagainya. Tetapi “siapapun anda” bila menulis dengan penuh rasa kebencian, mencaci maki tanpa mengindahkan norma yang berlaku dimasyarakat, jangan salahkan pembaca bahwa bukan saja tulisan anda yang dinilai tetapi karakter anda sudah menjadi penilaian tersendiri.

Baja Juga :  Talkshow Publik: Pemanfaatan TIK di Mall Taman Anggrek

Dewasa ini, semua orang terlihat seolah-olah “pintar” dan tahu segalanya karena untuk mendapatkan sumber atau refrensi dalam segala bahasa di dunia dapat diperoleh dengan mudah karena perkembangan TIK, khususnya internet.  Namun dalam perilaku sehat, tidak sedikit penulis memilih menjadi “plagiat cerdas” yang menggunakan karya dan pendapat orang sebagai bahan tulisan mereka, tanpa berkeinginan untuk menyebutkan sumbernya.

Kemudian jika ingin menjadi penulis sehat dengan memanfaatkan jaminan undang-undang dan hak asasi manusia untuk berekspresi, bebas berbicara dan mengungkapkan pendapat tentu tidak harus diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa batas, sehingga dengan mudah “semau gue” melanggar bahkan menginjak-injak hak-hak orang lain.

***

Untuk menjadi penulis yang sehat, mungkin nantinya setiap orang dapat mendefinisikan lebih lanjut, namun dalam sosialisasi pemanfaatan TIK di kalangan anak dan remaja, kami senantiasa berkeinginan agar remaja Indonesia dapat berperilaku secara baik ketika berinteraksi dan menyajikan/mempublikasikan segala sesuatu di dunia maya.

Perlu diakui, dalam kenyataannya memang banyak pengguna internet di Indonesia yang berusia muda atau remaja. Mereka memiliki cara tersendiri dalam berinteraksi dan mengekspresikan diri dalam pemanfaatan internet. Sikap kritis, kebebasan mengkritik, berkomentar dengan menggunakan gaya bahasa dan cara mereka yang terkadang membuat kita gerah. Namun, itulah anak-anak kita yang harus diberikan arahan, pemahaman dan contoh yang baik oleh orang dewasa, bukan sebaliknya ikut-ikutan terlibat untuk debat kusir dengan emosi yang berlebihan, bahkan hingga kebablasan menunjukan perilaku yang lebih buruk dan tidak sehat  dibandingkan mereka yang lebih muda.

Sumber gambar: Ilustrasi dari goinswriter.com dan Koleksi IDKita

*Ditayangkan di Kompasiana, pada tanggal 01 February 2014 | 15:25

Choose your Reaction!