Apa Perlu Menunggu Anak Diperkosa Kita Baru Sadar?

perkosa

Jawabnya Telat!  Mau nangis darah, emosi jiwa sama pelaku, kemudian ribut dan saling menyalahkan? Semua sudah terjadi! Pemulihan korban perkosaan tidak semudah membalik “sandal jepit”, dalam hitungan hari namun tahun, mungkin juga akan menyisahkan trauma dan masalah psikologis seumur hidup korban. Bahkan  orang tua dan keluarga terdekat pun akan merasakan dampak tersebut.

Menurut psikolog sekaligus pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati, ibu Elly Risman, korban video adegan “asusila” pelajar SMP di Jakarta beberapa waktu yang lalu saja membutuhkan waktu penanganan khusus selama bertahun-tahun oleh psikolog, pekerja sosial dan pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi di bidang tersebut (metrotvnews.com 10/10/2013). Jadi bisa dibayangkan saja berapa lama penanganan korban-korban pelecehan seksual, pemerkosaan pada anak oleh para predator online  ini?

Perlu fakta atau kurang fakta?  Sebenarnya sudah banyak kami rangkum dalam tulisan kami, juga yang ditulis oleh bloger atau komunitas lainnya. Namun untuk mengetahui berita terbaru dan ulasan Komandan ICT Watch, Donny BU silahkan membaca tulisannya yang berjudul Pedofil Online Memangsa Anak Indonesia! (7/1/2014).

Salah satu kasus disebutkan dalam tulisan Donny, terjadi di sebuah kota di Jawa Timur, dimana dengan berkedok sebagai seorang dokter perempuan muda di Facebook, seorang pelaku pedofil berhasil memberdaya setidaknya empat korban dari sebuah sekolah dasar yang sama (semuanya anak gadis). Dengan alasan berdiskusi tentang kesehatan alat reproduksi, para korban berhasil dibujuk rayu untuk mengirimkan gambar-gambar vulgar dirinya sendiri, yaitu gambar payudara dan alat kelamin mereka. Kemudian gambar-gamber tersebut disebarluaskan kemana-mana oleh pelaku pedofil tersebut, bahkan hingga saat tulisan Donny dimuat di web pribadinya.

Lebih lanjut menurut keterangan Donny, pedofil tersebut menyebarkan foto-foto korban melalui forum online, Facebook dan sebagainya. Tak cukup hanya itu, pelakunya pun membubuhi aneka informasi fitnah yang keji untuk menyertai foto-foto tersebut. Semisal, bahwa orangtuanya memaksa untuk menjual kegadisan anaknya hingga dikatakan sebagai korban perkosaan dari guru di sekolahnya. Dan, foto orangtua dan guru dari para korban tersebut, turut digadang-gadang untuk makin mempermalukan keluarga yang nahas tersebut.

Menurut Donny, Kasus tersebut saat ini sudah berada di tangan kepolisian setempat. Proses penuntasan atas kasus ini memang tidak mudah. Ada indikasi bahwa pelakunya adalah orang yang cukup paham dan cukup sering melakukan aksi pedofilia online dengan tujuan mengumpulkan gambar pornografi anak. Dan bukan tidak mungkin, ini merupakan sebuah sindikat “bawah tanah” yang memang saling bertukar koleksi atau bertransaksi pornografi anak.

Sepanjang tahun 2013 saja sudah terjadi beberapa kasus seperti :

  • Januari 2013, seorang siswi SMK di Makale – Tana Toraja, dibawa kabur oleh teman pria yang dikenalnya via Facebook.
  • Maret 2013, seorang siswi SMK di Jakarta Timur diculik oleh temannya di Facebook
  • April 2013, seorang siswi MAN di Purworejo, diculik, disekap dan diperkosa oleh pelaku yang baru dikenalnya via Facebook
  • Oktober 2013, seorang siswi SMP di Makassar diculik dan disetubuhi oleh seseorang yang dikenalnya di Facebook
  • Desember 2013, Kenal Gadis 17 Tahun di Facebook, Dipacari Lalu “Dijual”

Pertanyaan pada judul tulisan ini memang blak-blakan saja, karena selama melakukan sosialisasi pemanfaatan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) saat itu semua orang tua menaruh perhatian penuh, namun setelah itu mungkin tenggelam begitu saja setelah kami berlalu. Seakan-akan hanya heboh pada saat kegiatan berlangsung.  Walaupun secara keseluruhan masih ada orang tua yang melakukan komunikasi dan konsultasi rutin atas permasalahan yang menimpa anak mereka hingga saat ini melalui email resmi kami, namun prosentasenya masih sangat kecil, mungkin juga karena malu, merasa tabu atau alasan lainnya.

Dengan menghadirkan fakta-fakta penyalahgunaan pemanfaatan TIK, yang berbahaya bagi anak dan remaja. Berbagai sosialisasi dan bimbingan telah kami berikan untuk melakukan proteksi dan pengawasan terhadap anak dalam memanfaatkan TIK. Mulai dari cara yang paling sederhana hingga secara teknis yang memang membutuhkan perhatian dan kemampuan secara khusus. Bahkan untuk menindaklanjuti kegiatan-kegiatan tersebut, kami juga telah berupaya menanyakan pihak sekolah atau komunitas yang kami datangi untuk mendapat umpan balik setelah jangka waktu tertentu, namun kurang mendapat perhatian, sebagian diantaranya meminta untuk mengadakan kegiatan ulang untuk menanyakannya langsung kepada orang tua. Kalau hanya focus pada mereka saja, kapan giliran orang tua lain diedukasi? Sedangkan relawan yang ada saat ini saja banyak memiliki keterbatasan, baik waktu dan kesibukan lainnya.

Bukan saja kami, melalui IDKITA Kompasiana yang melakukan hal itu. Jauh sebelum kami, sudah berjuang kawan-kawan relawan TIK, ICT Watch, Komunitas bloger, aktivis lain dan tentunya pemerintah dalam hal ini kementrian komunikasi dan informatika. Namun sepertinya isu yang kami angkat sepertinya “kurang seksi” untuk diberitakan dan menjadi perhatian situs-situs berita/media online.

Bahkan dalam hubungan kami dengan berbagai pihak, kami sempat menyarankan  agar beberapa situs online terkemuka dengan suka rela memasangkan banner kampanye yang kami atau pemerintah perjuangkan, ya gitu deh.. masih ditanggapi dingin dan dianggap angin lalu, seolah-olah tidak menghasilkan keuntungan secara komersial. Itu saja sudah sulit, apalagi mengajak mereka untuk ikut berkampanye secara sadar baik online maupun offline

Sama halnya saran kami kepada beberapa operator agar juga memberikan informasi yang sama, juga masih dilirik dengan sebelah mata. Disamping beriklan, kami berharap pihak operator/ISP juga mengkampanyekan agar orang tua perlu melakukan pengawasan yang baik bagi anak dalam memanfaatkan peralatan cangih mereka dan menyediakan fitur-fitur tutorial parenting control agar secara teknis dapat dipraktekan secara mandiri oleh orang tua untuk meminimalisir dampak penyalahgunaan TIK. Semua ini mungkin dianggap dapat menganggu strategi pemasaran mereka, lalu kemudian dengan dana CSR yang dialokasikan secara terbatas untuk kegiatan seperti ini, beberapa divisi internal mulai secara mandiri “ikut-ikutan” melakukan sosialisasi agar terkesan meramaikan.

Saya sepakat dengan pendapat, “Komandan” ICT Watch, Donny BU, agar pesan dan peringatan kami sampai ke masyarakat, tidak cukup bila hanya pemerintah yang beraksi apalagi tidak tepat sasaran dan tanpa survey dan data pendukung. Mengharapkan satu NGO atau komunitas saja untuk membantu melakukan sosialisasi isu seperti ini tidaklah mungkin tercapai, oleh karena itu memang perlu adanya penanganan bersama, adanya kolaborasi semua komponen masyarakat, termasuk pelaku usaha maupun pemerintah.

Dari semua upaya tersebut, garda terdepan adalah orang tua, namun pertanyaannya sejauh mana orang tua dapat menaruh perhatian terhadap hal ini? Atau sejauh mana para pembaca artikel atau mereka yang telah mendengarkan sosialisasi tentang isu seperti ini dapat membantu menyebarluaskan upaya pencegahan dan penanganan penyalahgunaan TIK ini kepada orang terdekat, minimal keluarga, lingkungan atau komunitas dimana mereka berkecimpung?

Kepada metrotvnews.com (10/10/2013), Ibu Elly Risman menegaskan yang mengkhawatirkan adalah sesungguhnya otak anak-anak kita sendiri sudah mengalami kerusakan akibat kecanduan pornografi. Orang tua, masyarakat, pemerintah dan sistem secara keseluruhan hanya memperhatikan satu aspek saja dari tumbuh kembang anak, yang artinya memang bahaya sudah mengancam kita. Sehingga bagaikan fenomena gunung es, sebenarnya kasus-kasus pelecehan seksual pada anak oleh predator online mungkin sudah menimpa anak-anak kita, yang lebih bahaya lagi penyimpangan perilaku seksual pada anak sudah banyak terjadi dan dilakukan dikalangan mereka sendiri namun masih ditutup-tutupi.

Seperti yang dikemukakan oleh KOMNAS Perlindungan Anak melalui Tempo.co.id (12/12/2013) bahwa Selama 2013, ada 1.446 kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak dan mengakui bahwa jumlah kejadian sebenarnya diduga masih banyak terjadi seperti fenomena gunung es lagi, karena data ini berdasarkan laporan yang mereka terima.

Menurut KOMNAS PA, 28% kasus kejahatan seksual dilakukan peserta didik di lingkungan sekolah (naik 18-20% dibandingkan tahun 2012). Dengan memberikan contoh kasus tiga siswa kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Multimedia di Jakarta Timur ditangkap karena memperkosa siswi kelas X berinisial NFR, 16 tahun, di ruang kelas sekolahnya. 72% kejahatan seksual itu dilakukan orang dewasa atau lingkungan terdekat korban.

Walau apa yang dilaporkan oleh KOMNAS PA belum dapat dibuktikan melalui penilitian resmi agar dapat teruji adanya korelasi peningkatan kejahatan seksual anak dengan adanya penyalahgunaan pemanfaatan TIK, namun bagi beberapa aktivis dapat ditarik benang merahnya.

Lalu bagaimana penanaganannya? Menurut Ibu Elly lagi, tidaklah mudah. Orang tua memang akan menghadapi kesulitan menghadapi generasi “alien”, generasi sentuh dan generasi z yaitu anak-anak yang hidup dengan internet, lebih pintar dan sensitif. Anak-anak ini adalah anak-anak yang merasa boring, angry, stress dan tired. Mereka lelah, lokasi rumah – sekolah jauh lalu banyak kegiatan.

Oleh sebab itu, penanganan anak generasi Y bahkan Z memang memerlukan kerja ekstra bagi orang tua. Memanjakan anak dengan smartphone karena takut anak mati gaya di sekolah, membebaskan mereka berselancar di internet tanpa proteksi dan pengawasan karena alasan orang tua sibuk dengan “dunia mereka sendiri”, lebih memperparah pengawasan sekaligus pencegahan bagi anak dari dampak penyalahgunaan TIK.

Jadi, mau salahkan siapa bila anak dilecehkan bahkan diperkosa? Jangan menujuk hidung orang lain dulu, koreksi diri itu penting dan perlu membuka diri dan menyediakan waktu untuk menggali pengetahuan tentang penanganan anak dan remaja dewasa ini. Tidak tahu? Maka carilah berbagai artikel di internet tentang parenting control, kalau masih malas juga, tanyakan pada orang yang memahami hal ini, minimal mereka yang anda kenal dan percaya.

Lakukan pendekatan yang terbaik pada anak, karena andalah yang orang yang paling memahami karakter anak sejak dia lahir, dan tentu saja terus menanamkan nilai-nilai Agama dan Norma yang telah diwariskan secara turun menurun. Jangan malah kita yang diatur oleh anak, karena merengek, keinginan mereka kita penuhi seolah-olah menjadi kebutuhan yang teramat penting. Inilah unsur GAPTEK sebenarnya, gagap teknologi tidak berarti lagi dalam hal gagap mengoperasikan secara teknis peralatan canggih tersebut, tetapi lebih dari itu tidak mampu memahami manfaat dan bahayanya, bahkan tanpa mempertimbangkan usia anak.

Bagi pengguna internet termasuk media atau jejaring sosial, koreksilah perilaku kita selama ini. Bila mendapatkan konten pornografi anak, jangan didiamkan apalagi dinikmati dan sungguh keterlaluan bila ikut menyebarluaskan tanpa takut pada sangsi hukum yang berlaku. Laporkan pada pengelola media sosial sekaligus kepada badan/lembaga atau kementrian yang berkepentingan dalam menangani persoalan ini, atau kepada NGO, komunitas atau aktivis yang dapat membantu menindaklanjutinya.

Kepada pemerintah, jangan hanya dapat memblokir situs berbahaya saja tetapi bidik juga pemilik/pelakunya dengan perlatan canggih yang katanya sudah dimiliki (walau eksesnya sempat disadap menyumbangnya) . Manfaatkan payung hukum yang ada dan telah menjadi wewenangnya.

MOU antara Kominfo bersama Mabes Polri dalam menindak pelaku “kriminal online” (cyber crime) harus di buru, ditangkap dan diberi hukuman sesuai Undang-Undang yang berlaku. Untuk masalah perbuatan asusila terhadap anak dibawah umur, berilah hukuman yang seberat-beratnya. Jangan hanya terduga teroris dan tersangka korupsi saja.

Isu seperti ini mungkin tidak seksi menghadapi pesta demokrasi atau gosip para selebriti yang santer dan kurang mengedukasi masyarakat, namun mudah-mudahan saja, demokrasi yang dihasilkan nanti tidak menciptakan generasi “democrazy” nantinya.

Silahkan direnungkan, karena sejatinya, kami “berjuang” tidak bisa sendiri, peran anda semua sangat dibutuhkan secara sadar, sukarela, terpanggil secara mandiri mengedukasi orang lain tentang isu yang telah kami kemukakan selama ini, termasuk yang telah dilakukan oleh pemerintah, komunitas dan aktivis lainya.

Sumber Gambar Ilustrasi : pcbk.wordpress.com

Diposting dikompasiana.com 09 January 2014 | 04:16

Memahami Perkembangan Otak Mereka Remaja yang Masih Labil

Young girl texting

Punya anak remaja? Bagaimana anda menghadapi mereka di era teknologi yang serba maju dewasa ini? Pusing atau malah biasa-biasa saja? Apalagi melihat kenyataan bahwa remaja sekarang banyak mengalami permasalahan dengan perilaku dan pergaulan mereka. Walau putri semata wayang saya belum berusia remaja, namun kadang sulit menghadapinya. Kemauannya keras dan keukeuh kalau sudah kepingin sesuatu. Belum terbayang ketika ia remaja nanti, namun sudah menjadi tanggung jawab saya mempersiapkannya pada masa-masa itu,

Melihat tingkah polah keponakan saya yang kini telah remaja, saya jadi ngelus dada sendiri. Sifat pemberontak dan maunya sendiri kadang membuat orang tuanya pusing tujuh keliling. Tapi apa mau dikata, karakter anak sudah terbentuk sejak kecil, kini harus ada upaya ekstra dari orang tuanya untuk mengawasi dan membimbingnya agar tidak melakukan tindakan yang ceroboh dan mengganggu masa depannya nanti.

Mungkin mudah ketika saya memiliki pendapat sendiri dalam menangani remaja yang labil. Kelihatannya gampang namun saya sendiri belum tentu bisa menanganinya dengan baik. Oleh karena itu, wajar jika saat ini saya harus was-was untuk mendidik si kecil   sebaik mungkin agar di masa remajanya nanti saya tidak jadi pusing ‘dua ratus’ keliling 😀 .

Seperti yang ditulis oleh Livescience pada 22 April 2011, 10 Facts Every Parent Should Know about Their Teen’s Brain yang kemudian diterjemahkan dan diberitakan ulang oleh Detik Health pada tanggal 3 Oktober 2012,  dengan judul  10 Perubahan di Otak Remaja yang Bikin Galau dan Labil, orang tua memang harus memahami hal ini.

Berapa usia anak yang disebut remaja itu? Menurut Deswita, (2006:192) yang ditulis melalui wikipedia, Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian yaitu pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun. Sedangkan dalam artikel di atas, disebutkan usia remaja yaitu pada rentang antara 11 – 19 tahun.  Dengan demikian, orang tua yang memiliki anak jelang usia 10 atau 11 tahun setidaknya perlu memberikan perhatian khusus

Perkembangan otak remaja yang dibahas dalam artikel tersebut dikatakan akan mengalami puncaknya pada usia 11 tahun untuk anak perempuan dan 12 tahun untuk anak pria, otak mereka mulai mekar, yang artinya pada usia tersebut ketrampilan kognitif (Piaget: kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan) dan kemampuan baru akan muncul. Terjadi  lompatan besar dalam perkembangannya.

Memiliki kemampuan berpikir yang baru adalah salah satu diantara perkembangan otak mereka.  Otak remaja menjadi lebih efektif dalam mengolah informasi.  Remaja mulai memiliki kemampuan komputasi dan belajar mengambil keputusan seperti orang dewasa. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka kadang keukeuh dengan pendiriannya karena menganggap mereka bukan lagi anak kecil yang harus dituntun dan dinasehati terus menerus.

Walau demikian, ada orang tua yang membiarkan anak mereka mengambil keputusan sendiri bahkan ada kecenderungan ‘cuek’,  kelihatannya baik dan wajar agar anak diajarkan untuk dewasa, namun orang tua harus memahami bahwa anak masih dipengaruhi emosi  karena otaknya lebih mengandalkan sistem limbik (Medical Encyclopedia: struktur otak manusia  yang mendukung berbagai fungsi termasuk emosi, perilaku, memori jangka panjang, dan penciuman) yang masih mengedepankan emosi ketimbang korteks prefrontal (psikologis : adalah fungsi eksekutif yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara pikiran yang saling bertentangan, menentukan baik dan buruk, lebih baik dan terbaik, yang sama dan berbeda, prediksi hasil, harapan berdasarkan tindakan, dan kontrol sosial) yang mengolah informasi secara rasional.

Dikatakan selama masa remaja, sistem limbik lebih mendominasi perilaku remaja  dalam kemampuan perencanaan, pengendalian dorongan dan daya nalar yang lebih tinggi.  Bersamaan dengan perubahan hormonal, dominasi sistem limbik  membuat gejolak emosi lebih intens, misalnya kemarahan, ketakutan, agresi, kegembiraan dan daya tarik seksual.

Mencoba hal yang baru adalah salah satu kajian dalam perkembangan otak anak dimana ketika mereka berada di tengah kesenangan dalam memperoleh keterampilan atau hal-hal yang baru yang menarik perhatiannya, terutama dalam kaitannya dengan perilaku sosial. Sering coba-coba adalah salah satu tindakan yang dapat membahayakan atau merugikan diri mereka sendiri. Bahkan kata penilitian tersebut,  orangtuanya sendiri kadang dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Terkait dengan keinginan mecoba semua yang baru tersebut, dua hal penting dari 10 point yang diuraikan oleh penelitian tersebut menyebutkan bahwa dengan dominasi sistem limbik dari perkembangan otak mereka, remaja tidak pandai dalam mengukur Risiko dan sangat memperhatikan kata teman.  Oleh sebab itu, para orang tua diharapkan dapat memahami hal ini, sehingga remaja sangat pantas untuk dikawal dan diawasi dalam setiap perilaku mereka.

Karena labil dan ingin agar mereka terlihat berbeda dan dinilai menonjol dari teman sebayanya, remaja kadang ceroboh dalam memilih teman dan gampang terbuai untuk mencoba sesuatu yang beresiko dan merugikan diri mereka.  Hal ini juga yang menyebabkan mereka dapat terlibat untuk mencoba narkoba, terlibat perkelahian atau perilaku lain yang tidak aman.

Dengan demikian, menangani anak remaja bukanlah hal mudah. Sebagai orang tua, diharapkan dapat mendekatkan diri secara emosional agar anak mau terbuka dan menjadikan kita sebagai tempat curhat dan diskusi dalam memecahkan persoalan-persoalan mereka. Akan tetapi, kedekatan diri bersama orang tua tidak berarti bahwa pengawasan dilonggarkan begitu saja.

Ah, mungkin terasa mudah jika belum menghadapinya langsung. Semoga saja saya juga dapat memetik manfaatnya, sebagai bekal untuk mempersiapkan anak saya sebelum memasuki usia remaja nanti.

Sumber Gambar : http://i.dailymail.co.uk

Diposting di Kompasiana : 01 March 2013 | 06:21

Orang Tua Perlu Mengevaluasi Diri Untuk Mendidik Generasi Digital Sejak Dini

stk201906rke

Menjadi orang tua untuk generasi digital tidaklah mudah, apalagi bagi mereka yang menganggap dirinya “super sibuk”. Sering kali kita mengabaikan dan menutup mata pada kenyataan bahwa anak-anak kita telah banyak menghabiskan waktu dengan “dunia” baru mereka dan terpengaruh dengannya. Dunia yang menjanjikan berbagai hiburan, pergaulan, keterampilan maupun ilmu pengetahuan. Namun seiring dengan itu pula, kadang kita menganggap remeh terhadap ancaman di balik itu semua.

Sejak tahun lalu, ketika saya bersama rekan-rekan mendirikan IDKita Kompasiana, banyak sekali materi presentasi bahkan talkshow radio yang saya dapatkan. Bahkan hampir setiap minggu, hingga saat ini, materi-materi itu saya baca dan pelajari sebelum teman-teman membawakannya.

Pertanyaanya, apakah saya benar-benar memahami dan dapat menerapkan semua hal yang positip tersebut dalam kehidupan pribadi dan keluarga saya, khususnya mendidik putri saya? Jujur, tidaklah mudah. Namun inilah tantangannya.

Dalam perjalanan waktu, saya memang merasa harus “memaksakan” diri untuk mengambil sikap dalam mewujudnyatakan semua pengetahuan yang saya peroleh secara “gratis” tersebut.

Kenapa saya katakan “memaksakan” diri? Karena menurut kata hati saja, rasanya  tidak cukup.

Contoh mudahnya, ketika anak rewel, gadget seolah-olah menjadi “permen” mujarab untuk mendiamkannya.

Ketika kita tak mau diganggu, dengan alasan kesibukan pribadi, peralatan-peralatan canggih tersebut dengan mudahnya kita gunakan sebagai pengalihan perhatian anak. Dengan begitu, kita merasa bebas menikmati dunia kita sendiri dan memaksakan anak terlena dan menjadi terbiasa dengan dunia barunya.

Awalnya mungkin terasa biasa saja, namun kemudian ketika kita sadar bahwa mereka sudah jauh masuk ke dalam dunianya, tergantung bahkan menjadi candu, barulah kita buru-buru membuat aturan dan melarang ini dan itu untuk membatasi mereka. Tanpa sadar,  kita jugalah yang memiliki peran dominan untuk menjerumuskan mereka ke dalam dunia tersebut.

Terlambat? Tidak ada kata terlambat. Kalau memang telah menyadarinya kita harus bisa melakukannya, walau dengan cara “terpaksa” dan mendapat perlawanan dari anak kita sendiri. Kita yang memulai dan memfasilitasi mereka maka kitalah yang harus dapat menanganinya dengan baik.

Cara terbaik dalam menerapkan aturan pada anak dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yaitu dengan memberikan contoh yang baik kepada mereka. Inilah yang saya rasa harus disikapi dengan bijak.

Di dalam menerapkan displin penggunaan gadget, saya “terpaksa” harus membatasi kebiasaan menggunakan gadget di depannya. Bahkan saya rela untuk mematikan telepon genggam saat sedang menghabiskan waktu bersama dengannya. Begitu pula ketika mengerjakan pekerjaan kantor atau komunitas di rumah, saya harus dapat menyiasati waktu yang tepat agar anak maupun suami tidak merasa terganggu.

Saya tidak tahu bagaimana orang tua zaman sekarang menerapkan aturan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk anak dan remaja mereka. Masing-masing orang tua pasti memiliki cara penanganan yang berbeda. Ada yang mampu menerapkan aturan yang aman namun dalam kenyataanya masih ada juga orang tua yang memang terkesan cuek  walau telah memahami bahaya yang mengancam anak-anak mereka. Bahkan ada yang sengaja melengkapi anak dengan gadget terkini agar tidak “mati gaya” dalam pergaulannya di sekolah maupun di lingkungannya bersama teman sebaya mereka.

Ya, semua kembali pada diri kita masing-masing. Jangan sampai semuanya menjadi terlambat dan berakibat fatal bagi anak-anak kita.

Diposting di Kompasiana.com 27 February 2013 | 23:49

Sumber Ilustrasi Gambar : cdn.zmescience.com

Anak Perlu Waspadai Para Predator Seksual Online

ortu

Selasa, 23 Oktober 2012, kembali lagi IDkita Kompasiana mengudara, on air, berbincang mengenai Internet Sehat dan Aman melalui Radio Suara Edukasi, kementrian pendidikan dan kebudayaan. Kali ini topik yang diangkat adalah Predator Seksual Online.

Di awal talkshow, Mas Valentino menjelaskan latar belakang mengapa topik kali ini sangat penting untuk dibicarakan. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah semakin marak perilaku orang dewasa yang memperdayai anak-anak dalam hal seksual. Bahkan menurutnya, ia merasa kecewa terhadap statement “pejabat negara” yang terlalu terburu-buru dan tidak pada tempatnya memberikan penilaian terhadap korban “predator seksual online”, sementara proses hukumnya sedang berjalan.

Predator seksual online, diibaratkan seperti binatang buas yang mencari mangsanya untuk ditangkap dan diperdayai. Mereka memanfaatkan kelemahan anak-anak yang pada umumnya memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba-coba sesuatu yang baru. Keadaan labilnya anak-anak kita dalam memutuskan mana yang pantas dan mana yang tidak, dimanfaatkan bagi predator seksual online untuk melancarkan rayuan dan aksinya.

Disinggung pula mengenai pedofilia, yaitu gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja  yang biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual pada anak-anak. Mas Valen melihat kecendrungan menjadi pedofil juga dapat terjadi pada remaja itu sendiri. Walau belum disinggung mengenai batasan usia remaja yang dapat disebut sebagai pedofil, namun dalam literatur wikipedia.org  dapat diketahui bahwa batasan usia pedofil dengan korbanya minimal adalah 5 tahun. Sehingga dengan demikian, kalau anak berusia 17 tahun memperdayai secara seksual terhadap anak berusia 12 tahun dapat disebut sebagai pedofil.

Dari pengertian yang dipaparkan, kita dapat mengetahui bahwa dengan kemudahan internet, para predator seksual dan pedofil semakin leluasa melancarkan aksinya. Pelaku-pelaku tersebut kadang sulit diidentifikasi, karena keberadaan mereka pada kehidupan sehari-hari terlihat baik, sopan dan terpelajar.

Dalam aksi para predator seksual online ini, menurut Mas Valen, mereka tidak ragu untuk memberikan hadiah, seperti pulsa telpon untuk tetap berhubungan dengan calon korbannya. Masih menurut Mas valen, para pedofil dan perdator seksual online melancarkan aksinya dalam beberapa tahap pendekatan. Awalnya melalui komunikasi chatting atau sejenisnya, kemudian step berikutnya mereka akan berusaha melakukan pembicaraan melalui telepon, dan pada akhirnya mereka akan berupaya untuk mengajak calon korbannya bertemu langsung (kopdar)

Satu hal yang menarik dari paparan Mas Valen, ia menyinggung tentang korban harus diperlakukan sebagai korban, apapun alasannya dan apapun bentuk atau jenis hubungannya. Dia menolak adanya anggapan bahwa hubungan seksual antar remaja, apalagi antara orang dewasa dan anak-anak dapat dianggap “selesai”  hanya karena alasan “suka sama suka”. Menurutnya, bahkan ketika seorang anak gadis berperilaku menggoda, sebagai orang dewasa tidak patut tergoda dan memanfaatkan keadaan untuk melakukan hubungan seksual.

Beberapa undang-undang yang menyangkut perlindungan anak dijadikannya sebagai dasar argumentasi.  Khususnya pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, pada ayat 1 disebutkan bahwa, setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

Hal paling mendasar dan sangat penting dilihat dari ketentuan undang-undang ini seperti disebutkan pada ayat 2 pasal tersebut, dimana disebutkan bahwa  Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Ya, membujuk dan melakukan tipu muslihat melalui fasilitas online sangat dimungkinkan dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, para pedofil dan predator seksual.

Dengan demikian, diharapkan semua orang tua, bahkan masyarakat luas dapat memahami bahwa tanggung jawab untuk melindungi anak-anak kita adalah hal yang paling penting untuk diingat.

Diakhir  talkshow, Mas Valen memberikan beberapa masukan untuk para orang tua, yang kemudian saya dapat rangkum sebagai berikut:

Apa Tanda Bahwa Anak Anda Memiliki Resiko On-line?

Anak anda menghabiskan banyak waktu on-line, terutama pada malam hari.

Sebagian besar anak yang menjadi korban predator seks menghabiskan banyak waktu on-line, khususnya di chat room. Mereka mungkin  on-line setelah makan malam dan pada akhir pekan. Sepulang sekolah, mereka langsung mengurung dirinya di kamar, terlihat mereka adalah anak-anak yang manis dan patuh teradap prang tua.  Tetapi dalam situasi tersebut, mereka melakukan kontak on-line melalui chatting bersama teman-teman, membuat teman baru, menghabiskan waktu, dan kadang-kadang mencari informasi seksual eksplisit. Sementara banyak pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh mungkin berharga, orang tua harus mempertimbangkan pemantauan jumlah waktu yang dihabiskan mereka untuk on-line.

Anak-anak yang on-line berada pada kondisi risiko terbesar apabila mereka melakukannya di malam hari. Sementara para pelaku biasanya on-line sepanjang waktu,  mereka bekerja di siang hari dan menghabiskan malam mereka dengan mencari dan memikat anak-anak.

Anda menemukan pornografi di komputer (media penyimpanan lain) milik Anak

Pelanggar (pemangsa/predator) seksual sering memasok calon korban mereka dengan pornografi sebagai sarana membuka diskusi seksual dan rayuan. Pornografi anak dapat digunakan untuk menunjukkan kepada calon korban (anak) bahwa seks antara anak-anak dan orang dewasa adalah “normal.” Orang tua harus sadar akan fakta bahwa seorang anak dapat menyembunyikan file porno di media penyimpanan mereka yang lain (flash disk, CD/DVD, smartphone). Ini dapat terjadi jika komputer yang terhubung dengan internet juga digunakan oleh anggota keluarga lainnya.

Anak Anda menerima panggilan telepon dari orang-orang yang anda tidak tahu atau mereka melakukan panggilan, terkadang jarak jauh, ke nomor yang tidak anda kenal.

Setelah melakukan pembicaraan dengan anak secara on-line dan menemukan sensasi . Sebagian besar predator ingin berbicara dengan anak-anak di telepon. Mereka sering terlibat dalam “phone sex” dengan anak-anak dan sering berusaha untuk merencanakan sebuah pertemuan yang sebenarnya untuk melakukan seks secara nyata.

Sementara seorang anak mungkin ragu-ragu untuk memberikan nomor telepon rumahnya, para predator akan berusaha untuk melakukan percakapan dengan anak melalui auido Chat atau Video Chat.  Beberapa predator seks bahkan berani memberikan pulsa atau akun skype yang dapat melakukan panggilan bebas pulsa, sehingga korban yang potensial dapat menghubungi para predator tersebut tanpa diketahui orang tua.

Anak anda menerima email, hadiah, atau paket dari seseorang yang anda tidak tahu.

Sebagai bagian dari proses rayuan, kadang kala predator seksual mengirim surat, foto, dan segala macam hadiah kepada calon korban mereka. Para pelaku ini bahkan berani mengirimkan tiket pesawat agar anak melakukan perjalanan untuk bertemu dengan mereka.

Anak anda menjadi tidak tertarik dengan aktivitas keluarga.

Kadang anak-anak tidak tertarik dengan aktivitas keluarga, mereka memilih untuk berdiam di rumah dan di kamar mereka. Termasuk juga sedikit membuka pembicaraan bersama orang tua mereka tentang permasalahan yang mereka hadapi. Dalam kondisi ini, para predator seks seolah-olah dapat menjadi seorang konselor bagi permasalahan mereka dan mampu memikat hati dan perhatian anak-anak, seolah-olah mereka mampu memberikan jalan keluar bagi semua persoalan anak. Dengan kondisi ini anak dapat tergantung terhadap mereka dalam berbagai hal, termasuk menceritakan persoalan di keluarga bahkan di sekolah.

Anak anda menggunakan akun on-line milik orang lain.

Jika anda tidak berlangganan layanan on-line atau layanan Internet, anak anda mungkin bertemu para predator secara on-line di rumah teman atau perpustakaan. Sebagian besar komputer saat ini memiliki fasilitas koneksi internet apalagi smartphone. Para pelaku atau predator dapat memberikan anak-anak sebuah akun yang sudah mereka siapkan untuk berkomunikasi.

Apa yang harus anda lakukan jika anak anda kedapatan berkomunikasi dengan predator seksual secara online?1.

  1. Yang paling awal kendalikan emosi anda sebagai orang tua
  2. Carilah waktu dan suasana yang tepat untuk berbicara secara terbuka dengan anak tentang kecurigaan anda. Katakan terlebih dahulu bahwa apa yang akan anda jelaskan adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka, dan karenanya itu anda ingin melindungi mereka dari segala gangguan dan ancaman
  3. Pelajar predartor seks sesuai bahasa yang mudah di pahami oleh anak-anak
  4. Katakan kepada mereka tentang bahaya para predator seks.
  5. Memeriksa ponsel pintar atau komputer anak secara kontinyu dan bilamana perlu pada saat mereka tidak tahu. Jika Anda tidak tahu bagaimana? Bertanyalah kepada teman, rekan kerja, saudara, atau orang lain yang tahu tentang hal ini. Pornografi atau segala jenis komunikasi seksual dapat menjadi tanda peringatan.
  6. Gunakan parental control atau layanan telepon yang dapat memblokir telepon asing yang masuk ke HP sekaligus anda dapat mengawasi mereka memanfaatkan peralatan mereka. Apabila tidak mengerti, dapat menanyakan pada orang yang mengerti hal ini
  7. Memantau akses anak anda untuk semua jenis komunikasi elektronik  dan termasuk akun media sosial anak. Perlu anda ketahui bahwa para predator selalu bertemu dengan calon korban melalui chat room. Setelah bertemu seorang anak on-line, mereka akan terus berkomunikasi secara elektronik sering melalui e-mail. Ini adalah hal tersulit, karena anak akan menolak bila anda ingin campur tangan pelihat privasi mereka. Ini memang tantangan, anda harus bisa membuat aturan yang jelas, ketika anak anda di berikan fasilitas internet maka mereka juga seharusnya memahami aturan yang anda buat.
  8. Jangan lupa untuk mendokumentasikan, apa yang anda temui saat memeriksa peralatan dan fasilitas komunikasi online anak. Kalau email, dapat langsung di print. Kalau sesuatu yang tidak dapat anda print (atau anda tidak tau cara mendokumentasikannya), gunakan digital foto atau fasilitas foto pada ponsel anda untuk merekamnya. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk menindak para pedator seksual.
  9. Diskusikan persoalan-persoalan anak ini dengan orang yang memahaminya. Jangan diselesaikan sendiri secara perorangan, minimal dalam rumah tangga, ada ibu dan ayah. Atau paling tidak ada anggota keluarga lain. Bicarakan agar menemukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan yang anda temui sebelum menegur anak dan atau melaporkannya ke pihak berwajib bila bukti-bukti dirasa cukup.

Apa yang dapat anda lakukan untuk meminimalkan kemungkinan anak anda mengalami pelecehan  seksual secara online?

    1. Terus meningkatkan pemahaman agama dan moral kepada anak
    2. Sediakan waktu anda bersama anak anda, sesibuk apapun anda.
    3. Jangan berikan peralatan cangih kepada anak anda bila anda tidak mampu mengawasi mereka.
    4. Buat aturan atau kesepakatan apabila anda memutuskan untuk memenuhi keinginan mereka untuk mendapatkan peralatan atau fasilitas internet baik melalui komputer maupun smartphone, seperti pemeriksaan berkala pada peralatan atau sanksi-sanksi apabila mereka kedapatan melanggar kesepakatan yang sudah anda buat.
    5. Berkomunikasi, dan berbicara dengan anak secara terbuka tentang korban seksual dan potensi bahaya ketika mereka on-line
    6. Dampingi anak-anak anda pada saat on-line, apakah mereka mengajarkan Anda tentang favorit mereka on-line tujuan.
    7. Jauhkan komputer dan peralatan lain yang terhubung internet dari kamar tidur anak anda
    8. Tempatkan komputer di ruang keluarga, atau area yang dapat terlihat oleh anggota keluarga lain.
    9. Manfaatkan Aplikasi  Parental Control yang tersedia secara gratis. Kalau anda tidak tahu cara memasangnya, anda dapat bertanya atau mencari tutorialnya di internet.
    10. Ajarkan anak Anda tanggung jawab penggunaan sumber daya on-line.
    11. Cari tahu apakah terdapat perlindungan terhadap akses internet anak di sekolah,  perpustakaan umum, dan di rumah teman-teman anak anda. Ini adalah semua tempat, di luar pengawasan normal anda, di mana anak anda bisa menemukan seorang predator on-line.

 

Memahami dengan benar  jika anak anda mengalami bentuk eksploitasi seksual, yakinkan diri anda bahwa anak anda tersebut adalah korban dan tidak bersalah. Pelaku HARUS memikul tanggung jawab penuh untuk apa yang diperbuatnya.

Instruksikan anak anda (buat aturan atau larangan)

  1. Untuk tidak pernah mengatur pertemuan tatap muka dengan seseorang yang mereka bertemu secara on-line;
  2. Untuk tidak pernah meng-upload (post) foto diri ke internet atau layanan on-line yang lain kepada orang-orang yang mereka tidak kenal secara pribadi;
  3. Untuk tidak pernah memberikan informasi identitas seperti nama, alamat rumah, nama sekolah, atau nomor telepon;
  4. Untuk tidak pernah men-download gambar dari sumber yang tidak diketahui, karena ada kesempatan baik mungkin terdapat gambar seksual eksplisit;

Masukan untuk para remaja

  1. Amalkan ajaran agamamu dengan baik dan benar.
  2. Ingat bahwa kita hidup di masyarakat yang berbudaya luhur, jangan terpengaruh dengan perkembangan zaman, kehidupan hura-hura, pesta pora, gaya hidup yang tidak cocok dengan budaya kita
  3. Pasang foto yang sesuai dan wajar di media sosial kalau anda sudah cukup usia menggunakannya.
  4. Sebutkan bahwa anda adalah pelajar, siswa/siswi (khususnya siswi) pada biodata anda di media sosial.
  5. Jangan sebarkan informasi pribadi.
  6. Berusahalah untuk terbuka menceritakan masalahmu pada orang tua.
  7. Jangan memenuhi ajakan kopdar oleh orang asing (kalaupun merasa penasaran, ajaklah teman atau keluarga pada saat bertemu).
  8. Jangan pernah percaya dan terbuai dengan rayuan apapun melalui chat anda bisa terancam karena mereka bisa menyimpan pembicaraan, apalagi foto dan ajakan melihat video.
  9. Ingat benar, para predator sangat pintar merayu, mereka tidak segan-segan memberikan hadiah, pulsa dll.
  10. Ingat benar pembicaraanmu di telepon dapat di rekam
  11. Ingat benar bahwa semua yang direkam (chat, email, foto, Vide chat dll) dapat dijadikan senjata untuk mengancam kamu menuruti keinginan mereka.
  12. Ingat benar apa yang kamu posting di dunia maya (apalagi diberikan kepada orang yang tidak dikenal) suatu saat dapat menjadi batu sandungan untuk masa depanmu.
  13. Hindari menerima telepon atau membalas sms di malam hari  terutama dari orang yang tidak dikenal secara baik.
  14. Batasi dirimu menggunakan fasilitas chat messenge.
  15. Tutup Web cam-mu, entah dengan apa, stiker mungkin, apa saja yang bisa kamu bisa tutup saat kamu online.

Pada akhir talkshow, pesan penting yang disampaikan oleh Mas Valen kepada para remaja putri, “Ingat benar kamu tidak sendiri. Seperti di tengah tanah lapang yang dipenuhi orang banyak, saat engkau di puji karena kelebihan dan prestasimu maka orang tuamu akan tesenyum, sebaliknya jika kamu menelajangi dirimu di depan orang banyak, orang tuamu tentu akan menangisimu. Setega itukah kamu membuat mereka seperti itu?”

Semoga bermanfaat

Note : Rekaman talkshow Idkita  Kompasiana melalui Radio Suara Edukasi, dapat didengar kembali melalui http://youtube.com/user/idkitakompasiana

Ilustrasi: puncakdunia.files.wordpress.com

*Tayang di Kompasiana pada tanggal 24 October 2012 | 07:28