Road Show : Kisah Sebuah Sekolah “Kumuh” di Tengah Kota Ambon

DSC03964

Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, ketika saya mulai melakukan serangkaian kegiatan di kota Ambon, diantaranya melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kondisi beberapa sekolah yang telah memanfaatkan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), khususnya internet dalam menunjang pendidikan mereka. Saya menemukan sebuah sekolah formal dengan kondisi yang cukup memprihatinkan di tengah ibu kota provinsi Maluku, Ambon, yang tergolong kota kecil ini.

Jika saja sekolah ini berada di pinggiran kota atau daerah pegunungan, mungkin saya bisa memakluminya. Namun letak sekolah ini, berada di pusat aktivitas masyarakat di Kota Ambon. Hanya berjarak kurang dari 1 KM dari gedung Dinas Pendidikan Pemerintah Provisi Maluku yang berdiri megah, di jalan Jenderal A. Yani, yang merupakan salah satu jalan utama di kota Ambon.

Hanya Berdinding triplek, beratap seng, tanpa langit-langit atau plafon, dengan kondisi ruang belajar yang sangat sederhana tanpa laboratorium dan perpustakaan. 80 siswa SMP dan 120 siswa SMA mengikuti proses belajar di 4 bilik kelas dalam segala kondisi cuaca. Apalagi ketika musim panas tiba, dapat dibayangkan tingginya suhu ruang kelas dapat secara langsung menganggu kosentrasi siswa. Seperti yang dituturkan juga oleh salah seorang gurunya, “ketika cuaca panas, jangankan siswa, kami sebagai guru sering kegerahan dan terganggu kosentrasinya saat mengajar,” ujarnya.

DSC03956

Empat Bilik Kelas dengan Sekat Triplek dan Beatap Seng

SMP dan SMA Gemah 7 Yayasan Nusantara namanya.  Jika dilihat dari namanya, semula saya berpikir bahwa sekolah yang saya kunjungi ini merupakan SMA atau SMP GEMAH yang ke 7 yang artinya masih ada beberapa SMP/SMA GEMAH  1 hingga 6 lainnya. Sehingga ketika melihat keberadaan sekolah yang sangat memperihatinkan ini, saya anggap sebagi suatu hal yang wajar karena sebagai sekolah rintisan atau baru maka pembangunan sekolah memang memerlukan waktu untuk membenahi diri. Ternyata anggapan saya salah,  dalam kenyataannya, SMP/SMA Gemah 7 ini adalah satu-satunya sekolah GAMAH di kota Ambon, yang sengaja disingkat dari kata GEMAH TUJUH oleh pendiri Yayasan Nusantara Ambon yang mengelola sekolah ini.

Kata GEMAH TUJUH  merupakan kependekan dari “Gerak Maju Hadapi (GEMAH) Tantangan Menuju Hari Esok (TUJUH)”. Sekolah ini dibangun oleh seorang pensiunan PNS pada tahun 2001, Bapak Bob Nusawakan SH, yang juga adalah kepala sekolah, dan Pendiri Yayasan Nusantara Ambon yang mewadahi sekolah ini.

Baja Juga :  Workshop Perdana : IDkita Kompasiana Tentang ‘Parenting Control’

DSC03955

Sekolah yang berdiri di atas tanah pemerintah ini, berada di kawasan bekas salah satu hotel yang cukup terkenal di era orde lama hingga tahun 90-an, yang saat ini sudah ditutup. Karena keadaan ini,  area ini memang terbengkalai dan menjadi lahan “tidur” yang tidak tergarap belasan tahun lamanya. Di area ini pula pernah dijadikan tempat untuk mengungsi oleh  korban konflik dan tragedi  “berdarah” yang sempat melanda provinsi seribu pulau ini.

Mungkin karena melihat lahan tidur yang kosong ini, Bob kemudian memanfaatkannya untuk mendirikan sekolah untuk menampung kebutuhan pendidikan para pengungsi yang saat itu belum direlokasi oleh pemerintah untuk kembali ke daerah mereka masing-masing atau menempati beberapa daerah yang telah ditentukan oleh pemerintah.

DSC03958

Saat Berbincang Dengan Pak Bob

Saat bertemu dengan Bapak Bob Nusawakan SH, pada hari Jumat, 3 Oktober 2014, seusai jam sekolah, saya menyempatkan diri untuk melakukan tanya jawab dengan pria berkumis yang sederhana ini. Bob menjelaskan selain merasa prihatin terhadap keadaan anak-anak pengungsi saat itu, kemudian ia juga terpanggil untuk menampung para pelajar yang berlatar belakang dari keluarga miskin, broken home, putus sekolah, termasuk menampung siswi-siswi yang dikeluarkan oleh sekolah lainnya karena hamil. Mereka semua ditampung oleh Bob dengan tangan terbuka, penuh cinta dan kasih, tanpa membebankan mereka dengan biaya sekolah.

Dalam perjalanan waktu, walau kondisi sekolah masih terlihat memprihatinkan, apalagi di tahun 2001, Bob selalu bersyukur ketika sekolah mulai diperhatikan oleh pemerintah Provinsi walau baru diterimanya secara bertahap. Sekolah yang dulunya merupakan sekolah binaan dari SMA Negeri 1 Ambon dan SMP Negeri 4 Ambon, kini mendapat bantuan guru dari pemerintah Provinsi yang berstatus PNS, yaitu 8 orang untuk SMP dari 13 guru yang ada dan 8 guru untuk SMA dari 17 guru yang mengajar.

Selain itu dana BOS dan bantuan siswa miskin juga diperoleh oleh SMA/SMP GAMAH 7 dari pemerintah, dan sejak tahun 2011 sekolah sudah dinyatakan mandiri dengan segala keberadaanya, sehingga Bob sudah dapat mengeluarkan ijazah sendiri.

DSC03962

Kondisi Salah Satu Ruang Kelas SMA

Namun terkait kondisi bangunan dan fasilitas sekolah, Bob mengangku selalu bersabar untuk menanti uluran tangan Pemerintah Pusat dan Daerah maupun lembaga sosial lainnya. Dengan sumbangan sukarela orang tua, yaitu rata-rata 35.000 per bulan, ditambah bantuan lainnya, Bob menyisihkan sebagian dana yang ada untuk mendirikan sekolah di lahan sendiri, karena beliau sadar bahwa tanah dimana sekolahnya didirikan bukanlah milik Yayasan, sehingga ia mulai mencicil untuk membeli sebidang tanah di daerah Gunung Nona, Kelurahan Benteng, Kota Ambon (kurang lebih 17 – 20 km dari  letak sekolah saat ini). Di tanah itu pula Bob telah membangun 3 bangunan kelas yang masih belum diselesaikannya selama dua tahun belakangan ini.

Baja Juga :  Twibbon Perayaan 10 Tahun IDKITA

“Mudah-mudahan, pemerintah pusat dapat merealisasikan bantuan 4 bangunan kelas yang dijanjikan mereka, walau kebutuhan dana untuk 4 kelas tersebut tidak seluruh dapat dipenuhi. Oleh karena itu, saat ini saya harus mencari dana tambahan untuk menyelesaikannya, Karena saat ini saja, 3 kelas yang baru dibangun secara mandiri, masih terbengkalai selama setahun lebih”, Ujarnya.

***

Berbeda dengan beberapa sekolah yang sempat saya kunjungi, sekolah ini meninggalkan banyak kisah yang cukup membuat saya terharu sekaligus bangga. Lewat kepemimpinan seorang Bob Nusawakan, sejak tahun 2001, terdapat 46 siswi yang dikeluarkan oleh sekolah lain karena hamil, mereka di tampung Bob dan dibinanya sehingga mereka berkesempatan mendapat selembar ijazah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dari 46 siswi tersebut kini beberapa diantaranya telah bekerja baik sebagai guru, perawat, PNS dan sebagian lagi masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta maupun negeri, di kota ambon maupun di wilayah lain di Indonesia.

DSC03963

Dari ruang kelas yang sangat sederhana ini, telah menghasilkan sarjana dan mereka yang berhasil

Mata Bob terlihat berkaca-kaca, ketika ia menceritakan bahwa 4 siswa alumni sekolah yang dipimpinnya tersebut, juga telah menghasilkan  4 dokter lulusan dari beberapa universitas terkenal di Indonesia. Selain itu, banyak PNS, Anggota Polri/TNI dan pengusaha lahir dari sekolah yang sangat sederhana ini.

Bob juga gigih dan tegas dalam mendidik siswa yang bermasalah  karena “malas” ke sekolah atau “nakal”. Dia selalu menyempatkan diri untuk mendatangi rumah siswa yang kedapatan bolos. Menurutnya ini sudah menjadi kesepakatannya dengan orang tua, ketika anak mereka dimasukan ke sekolah yang dipimpinnya itu.

“karena sudah kesepakatan dengan orang tua, siswa-siswa yang bandel ini saya datangi mereka satu persatu di rumahnya, dan memberi hukuman kepada mereka, kemudian memaksa mereka untuk ke sekolah,” katanya.

Baja Juga :  Walau Sekolahnya di Desa, Siswa Sudah “Melek” Internet

Walaupun terlihat keras dalam menangani siswa-siswa yang bermasalah tersebut, Bob mengaku tetap mendidik mereka dengan cinta kasih. “Buktinya, banyak yang sudah berhasil sekarang dari sekolah yang terlihat sangat tidak layak ini. Ketika mereka telah bekerja dan mendapat penghidupan yang layak, mereka sangat berterima kasih atas bimbingan saya bersama guru-guru yang memiliki dedikasi yang tinggi dalam mendidik generasi muda, walau kami tidak mengharapkan ucapan itu, karena sudah menjadi tugas dan kwajiban kami sebagai pendidik,” jelas Bob lebih lanjut.

Mendengar semua kisah yang diceritakan Bob dan beberapa guru lainnya, saya merasa sangat “kecil” dan belum melakukan apa-apa untuk anak-anak Indonesia  dibandingkan mereka. Termasuk apa yang mulai kami upayakan melalui komunitas kami untuk mengupayakan beberapa sekolah percontohan untuk pendidikan layanan khusus (PLK) dalam pemanfaatan TIK sebagai bagian dari upaya pemerataan pendidikan di daerah terpencil dan miskin. Upaya ini merupakan salah satu tujuan kami untuk  melindungi anak dari berbagai masalah di era yang sangat cepat berkembangnya ilmu pentehauan, informasi dan teknologi dewasa ini.

Setelah berpamitan, walau kegiatan ini didukung oleh PT Indosat dan Kowani, saya tidak berani untuk menjanjikan apa-apa untuk pak Bob saat ini sebelum mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan komunitas yang sudah dianggedakan dipenghujung tahun 2014, Saat itu, saya hanya bisa memberikan beberapa pandangan, harapan dan beberapa masukan dan tentu saja memberi dukungan doa yang tulus agar sekolah yang dipimpinnya dapat secara konsisten memperhatikan siswa-siswa yang memiliki berbagai masalah untuk selanjutnya dididik menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi banyak orang, bangsa dan Negara.

Mungkin suatu saat kami akan kembali lagi, untuk membantu sekolah ini walau melalui bantun yang tak ternilai dibandingkan dengan dedikasi, cinta kasih, perjuangan yang telah dibuktikan oleh pak Bob beserta guru-guru dan pengurus yayasannya.

Dari sekolah yang terlihat tak layak ini, ternyata menyimpan banyak kisah dalam mendidik generasi muda bangsa. Doa kami selalu menyertaimu pak Bob dan kawan-kawan, sampai berjumpa lagi dilain kesempatan.

Koleksi Foto : IDKITA

Choose your Reaction!