Sosialisasi : Bagaimana Membentuk Karakter Positif Agar Berprestasi

“Untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, kita hanya perlu menjadi contoh laku di setiap harinya”

Pesan yang disampaikan Bapak Sugeng Kahana Spd., Kepala Sekolah SMPN1 Sokaraja ini benar-benar bukan hanya ucapan belaka. Sejak masuk ke gerbang sekolah yang meraih penghargaan peringkat 2 Sekolah Berkarakter se-Jawa Tengah ini sudah terlihat bagaimana para siswa ini sangat hormat dan ramah, tertib dan disiplin. Setiap pagi para siswa mengucapkan salam dan mencium tangan para guru yang selalu siap menyambut mereka. Selain mengajarkan sikap hormat, kebiasaan ini pun dijadikan momen untuk mengingatkan secara personal para siswa yang melakukan pelanggaran kecil semisal lupa memakai atribut sekolah, bahkan apabila siswa terlambat masuk. Menurut Pak Sugeng, dengan dilakukan seperti ini, diharapkan mampu menumbuhkan tanggung jawab dan kesadaran dari dirinya, jadi tidak ada sistem “punishment”.

Kesadaran ini seperti sudah mengakar pada setiap siswa. Sikap-sikap yang diteladani dari para guru sudah menjadi keseharian mereka, dimana sikap disiplin, jujur dan nasionalisme sangat kuat terpancar dari tiap sudut sekolah ini. Jejeran sepatu yang tertata rapi, siswa yang ramah dan aktif, serta kreatifitas dan nasionalisme yang terpampang di tiap jengkal dinding sekolah, di mana gambar-gambar pahlawan dan ke-Indonesia-an karya para siswa terpampang.

Karakter positif tersebut lahir bukan hanya dari pelajaran resmi saja, tapi juga dari ekstrakurikuler muatan daerah yang sarat dengan budaya, norma dan tatanan kehidupan sosial masyarakat indonesia. Sikap yang menumbuhkan semangat dan prestasi. Terbukti dengan banyaknya pernghargaan yang diraih baik di tingkat propinsi dan bahkan nasional. Dan oleh kepala sekolah, siswa berprestasi ini tidak dinilai hanya sebatas akademiknya, tetapi juga potensi diri (bakat/prestasi) dan terutama akhlak dan karakter pribadi.

Baja Juga :  Sekalipun di Desa Siswa-Siswi Sudah “Melek” Internet

ortu

Mas Valentino menyampaikan materi (Koleksi IDKita)

Ini adalah sebagian kecil dari perbincangan saat tim IDkita melakukan sosialisasi di SMPN 1 Sokaraja, Kab, Banyumas yang dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 25 Maret 2014. Kebetulan pula pada hari itu dilakukan siaran rutin di Radio Suara Edukasi milik Pustekkom. Maka, sambil sosialisasi berjalan dengan dihadiri 200-an peserta, di ruang kepala sekolah juga dilakukan wawancara bersama Pak Sugeng dan siswi kembar berprestasi, yaitu Widya dan Nadya yang selalu bersemangat menceritakan tentang sekolah dengan segala prestasinya. Juga ada Dewi, siswi penyandang disabilitas daksa. Salah satu nilai positif sekolah ini, selain segudang prestasi yang diraih oleh para siswanya, bahkan sampai tingkat nasional, juga menerapkan pendidikan inklusi, dimana ada beberapa siswa penyandang disabilitas yang membaur dengan sangat baik dalam proses belajar mengajar.

Menilik dari karakter sekolah yang menerapkan pendidikan Inklusif, di sini siswa diajarkan untuk terbuka dan membaur dengan masyarakat, tidak menjadi eksklusif, sehingga dapat memetik banyak pengalaman selama mereka berinteraksi dengan lingkungannya, baik untuk kegiatan di luar sekolah maupun pendidikan di lingkungan sekolah yang selalu menghadirkan keterlibatan orang tua, masyarakat bahkan sekolah lain.

ortu

Pak Sugeng Kahana sedang wawancara online dengan Radio Suara Edukasi (Koleksi IDKita)

ortu

Nadya dan Widya sedang wawancara online (Koleksi IDKita)

Sementara sosialisasi mengenai dampak dan pemanfaatan internet secara sehat dan aman berlangsung, para siswa yang hadir tampak sangat antusias berdialog dan sharing dengan Mas Valentino, khususnya mengenai fenomena media sosial. Dari curhat di media sosial sampai narsis dan selfie. Di SMPN 1 Sokaraja yang semua siswanya sudah melek internet ini memang tidak diperkenankan membawa handphone. Mereka hanya diperbolehkan membawa laptop atau smartphone pada saat pelajaran TIK. Meski ada larangan tersebut, namun pihak sekolah juga memberikan solusi dengan menyediakan telepon sekolah untuk kebutuhan siswa yang harus menghubungi keluarganya.

Baja Juga :  Makan tidak Makan yang Penting Bisa Ngenet

Dalam setiap pemaparannya, Mas Valentino selain membekali siswa untuk memproteksi diri dari ancaman penyalahgunaan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang merugikan masa depan, juga tak putus-putusnya mengingatkan mereka untuk tidak menghabiskan waktu berselancar, chatting, atau bentuk interaksi lain melalui smartphone di media sosial. Ada banyak hal lain yang bisa diambil manfaatnya, khususnya yang mengasah keterampilan dan wawasan mereka untuk mampu bersaing di masa mendatang.

ortu

(Koleksi IDKita)

ortu

(Koleksi IDKita)

Acara pun berakhir setelah 2 jam berlangsung, meski antusiasme para peserta masih tinggi. Namun kegiatan lain sudah menanti. Sosialisasi ini adalah kegiatan pembuka dari rangkaian kegiatan di Kab. Banyumas, yang dilanjutkan dengan tindak lanjut hasil dari kegiatan sosialisasi sebelumnya (pada bulan Januari 2014) di Boarding School Mbangun Desa, Ds Ketenger, Baturaden. Rangkaian kegiatan ini adalah kerjasama PT Indosat dan PUSTEKKOM, serta KOWANI (Kongres Wanita Indonesia).

ortu(Koleksi IDKita)

***

  Sumber gambar: Koleksi IDkita   *Ditayangkan di Kompasiana, pada tanggal 30 March 2014 | 17:15

Choose your Reaction!