“Mbangun Desa”: Boarding School Para Kader Pembangunan Desa

Sementara sekolah-sekolah di kota-kota besar berlomba-lomba menyelenggarakan pendidikan dengan pendekatan modern dan berskala Internasional, kebutuhan pendidikan di daerah terpencil di penjuru negeri ini masih menyisahkan persoalan.

Seperti yang dijelaskan melalui situs resmi Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-LK) Dikmen, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (pkplkdikmen.net 8/10/2013). Beberapa  permasalahan  penyelenggaraan pendidikan, khususnya di daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T) antara lain karena kurangnya persedian tenaga pendidik, distribusi tidak seimbang, insentif rendah, kualifikasi dibawah standar, guru-guru yang kurang kompeten, serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang ditempuh, penerapan kurikulum di sekolah belum sesuai dengan mekanisme dan proses yang standarkan. Disamping itu, permasalahan angka putus sekolah juga masih relatif tinggi  menimbulkan persoalan lain.

Terkait hal tersebut, menurut Direktorat PK-LK,  pendidikan di daerah 3T perlu dikelola secara khusus dan sungguh-sungguh supaya bisa maju sejajar dengan daerah lain. Hal ini bisa terwujud bila ada perhatian dan keterlibatan dari semua komponen bangsa ini, baik yang ada di daerah maupun di pusat.

Di antara komponen bangsa yang menaruh perhatian khusus mengenai hal ini, tersebutlah Muhamad Adib dan Isrodin, dua orang penggagas, pendiri, motor sekaligus pendidik Sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Menengah, Boarding School “Mbangun Desa” yang terletak di Desa Ketenger Kecamatan Baturaden-Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sekolah yang di dirikan  pada tanggal 29 Juni 2011 ini, bertujuan untuk memfasilitasi proses belajar peserta didik sehingga menguasai standar kompetensi lulusan pendidikan menengah dan standar kecakapan peserta didik sehingga mampu mengikuti jenjang penididikan selanjutnya dan siap menjadi kader atau tenaga pembangun desa.

Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah ini bersifat gratis, namun dirancang menjadi pendidikan yang produktif. Dimana selama proses pendidikan, peserta didik bersama pendidik secara bersama-sama menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha ekonomi produktif untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan tanpa melalaikan kewajiban utama untuk belajar.

Baja Juga :  Workshop Perdana : IDkita Kompasiana Tentang ‘Parenting Control’

Selain belajar untuk mendapatkan standar kompetensi lulusan (SKL) sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan No. 23 Tahun 2006, peserta didik belajar untuk menjadi kader pembangunan desa dengan kewajiban menguasai 30 Standar Kecakapan Peserta Didik (SKPD) Pendidikan Layanan Khusus Menengah Boarding School “Mbangun Desa”, antara lain pendidikan mengenai masalah pertanian, perkebunan dan keparawisataan.

Menurut kepala sekolah, Isrodin, seperti yang pernah diberitakan juga melalui Harian Republika (6/08/2012), model pendidikan yang  berlangsung di sekolahnya dilaksanakan secara intensif selama tiga tahun. Berbeda dengan dengan sekolah Paket C, yang kebanyakan menampung orang-orang tua yang membutuhkan ijazah  SMA, dengan model pendidikan tidak intensif. Sehingga sekolah yang diasuhnya ini, menurutnya merupakan jenis sekolah formal namun hingga saat ini belum diakui sebagai sekolah formal oleh pemerintah.

“Kami masih menunggu Peraturan Menteri Penididikan dan Kebudayaan mengenai sekolah layanan khusus sepert ini, padahal dasar peraturannya telah ada, yaitu UU Sisdiknas no. 32 tahun 2003 dan PP no. 17 tahun 2010, tetapi petunjuk teknisnya masih belumn ada,” Katanya

Lebih lanjut menurut  Isrodin, karena merupakan sekolah yang menyelenggarakan Pendidikan Layanan Khusus, maka sekolahnya memberikan tambahan pendidikan yaitu 30 Standar Kecakapan Peserta Didik (SKPD).  Jadi  menurutnya, sekolah  yang diasuhnya ini hampir mirip dengan SMK.

Sekolah ini sebenarnya sudah banyak diberitakan di berbagai media cetak maupun online dan telah menerima berbagai penghargaan dari pemerintah. Beberapa diantaranya Anugerah Peduli Pendidikan Tahun 2012 oleh Menteri Pendidikan diberikan kepada Muhamad Adib untuk kategori masyarakat yang menginisiasi berbagai layanan pendidikan. Di tahun yang sama, Muhamad Adib juga meraih penghargaan PGRI Award Provisi Jawa Tengah.

Walau demikian, menurut pengamatan TIM Idkita, sekolah ini belum tertangani dengan baik untuk dapat dijadikan role model Sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Menengah yang menghasilkan kader pembangun desa yang memang dibutuhkan saat ini. Selain masalah pengakuan atas izin dan persyaratan yang telah diajukan, penerimaan siswa di tahun ke 2 dan ke 3, menurun dibandingkan angkatan pertama yang saat ini telah duduk di kelas 3. Alhasil, siswa  kelas 3 pada tahun ini “terpaksa” harus mengikuti ujian setara dengan kejar paket C.

Baja Juga :  Kasus IM2 : Justeru MA dapat Mengancam Terjadinya “Kiamat” Internet

Banyak pejabat dan tokoh masyarakat telah mengujungi sekolah ini, diantaranya Ny. Nafsiah Dahlan Iskan, yang berjanji akan mengajak Bapak Dahlan Iskan untuk berkunjung ke sekolah ini, namun tak kunjung direalisasi. Termasuk janji Gubernur Baru  Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, masih mereka tunggu hingga saat ini, untuk ikut mengajar langsung di alam dimana mereka jadikan sebagai laboratorium alam selama menempuh pendidikan di Boarding School “Mbangun Desa”.

Beberapa bantuan  yang diberikan sepertinya belum tepat sasaran, fokus bantuan masih bersifat proyek/kegiatan yang bersifat insidential belum diarahkan untuk memperkuat sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang memenuhi standar minimal. Paling tidak memiliki gedung sekolah di atas  tanah sendiri, fasilitas pendidikan yang memadai, peralatan praktek dan tentu saja tenaga pengajar yang secara suka rela ikut berpartisipasi secara aktif.

Sepertinya, pejabat-pejabat yang kerap mengujungi sekolah ini, perlu mengevaluasi lagi “janji-janji”-nya untuk mewujudkan mimpi dan harapan sekolah yang memiliki program mulia ini.  Penghargaan maupun pujian apapun takan berarti tanpa bantuan secara konkrit di lapangan.

“Kekecewaan” pernah mereka alami sebelumnya, ketika 20 siswa Boarding School “Mbangun Desa” ini melakukan long march, berjalan kaki dari  Purwokerto menuju Jakarta selama 18 hari, sejak 5 Oktober 2013 (kompas.com 28/10/2013). Impian bertemu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani SBY di Istana bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kandas. Padahal menurut mereka, surat sudah lama dilayangkan sebelumnya namun tidak mendapat respon dan konfirmasi yang jelas.

***

Di sekolah inilah Tim IDKITA mengakhiri road show di wilayah Jawa Tengah untuk bulan Januari 2014 atas kerjasama KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) yang didukung PT. Indosat. Tim yang berangkat dari Yogyakarta dan  tiba  di kawasan wisata Baturaden, pukul 00:10 WIB, 30 Januari 2014 bergabung bersama relawan dari Solo  dan Purwokerto.

Baja Juga :  Workshop: Belajar Jarak Jauh di PLK Mbangun Desa Purwokerto Jawa Tengah

Tepat pukul 09:00 pagi, TIM IDkita disambut dengan hangat penghuni “pedepokan”, Boarding School “Mbangun Desa” yang telah siap mengikuti sosialisasi dan dialog pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Kebetulan karena bertetangga, selain Boarding School “Mbangun Desa”, juga bergabung beberapa siswa SMTK (Sekolah Menengah Teologi Kristen) Soteria Purwokerto. Kedua sekolah ini sudah terbiasa menyelenggarakan kegiatan bersama, saling membaur seperti halnya kehidupan keseharian mereka.

Tak ketinggalan, salah seorang peserta didik Boarding School “Mbangun Desa” yang berasal dari Swis, Lea Berger, ikut berbaur dengan siswa lain yang ada. Lea tinggal di sana selama 3 minggu untuk melakukan penelitiannya

Kepada peserta, Tim IDKITA memberikan pembekalan pemanfaatan TIK secara baik dan benar. Khususnya melatih mereka untuk tak henti-hentinya menulis, menginspirasi generasi muda Indonesia. Memperkenalkan apa yang telah dan akan mereka lakukan, mimpi dan cita-cita mereka dalam membangun Desa terpencil. Dengan harapan apa yang mereka lakukan, dapat juga dilakukan di daerah lain, di seluruh pelosok negeri tercinta ini yang jauh dari perhatian masyarakat pada umumnya.

Diakhir sosialisasi, Tim IDKITA juga memperkenalkan mereka dengan Kompasiana.com, sebagai situs pewarta warga yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk menyuarakan aspirasi, perasaan dan ide-ide mereka kepada masyarakat luas. Selain diajarkan cara mendaftarkan diri, Tim IDKITA juga memberikan beberbagai tips menulis lainnya.

***

Banyak hal yang kami diskusikan dan pelajari tentang keberadaan sekolah ini dengan berbagai permasalahnya. Rasanya-rasanya perlu waktu untuk dapat kembali lagi, disamping memperdalam keseharian mereka maupun kegiatan mereka di lapangan (laboratorium alam). Mudah-mudahan jika waktunya tiba, kami dapat mengajak beberapa pihak yang memang peduli masalah pendidikan di desa-desa terpencil di Indonesia

Diposting di kompasiana :  02 February 2014 | 18:07

Choose your Reaction!